Abdullah Azwar Anas, M.Si

Bupati Banyuwangi Periode 2010 - Sekarang

Abdullah Azwar Anas, lahir di Banyuwangi, 6 Agustus 1973. Tumbuh di lingkungan keluarga sederhana, Anas menghabiskan masa kecilnya di Banyuwangi dan Madura, kemudian pindah ke Jember untuk menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas. Anas, sapaan akrabnya lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Teknologi Pendidikan IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada tahun 1992-1998 dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1994-1999. Kemudian Anas melanjutkan studi pascasarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia pada tahun 2002-2005.

Bupati Anas memang dikenal sudah aktif mengikuti kegiatan sejak beliau masih sekolah SMA. Hingga beliau dipercaya menjadi Ketua Umum badan otonom NU untuk para pelajar dan santri itu pada tahun 2000-2003. Di masa itu, Anas juga aktif di Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI), wadah pemuda lintas agama untuk merajut tenun kebangsaan. Bahkan beliau juga aktif sebagai salah satu ketua di jajaran Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) pada saat bersamaan beliau menjadi anggota DPR RI.

Perjalanan karir Bupati Anas dimulai sejak masih dalam masa perkuliahan, dimana saat itu beliau bekerja untuk sejumlah program penelitian, serta menjadi reporter dan news editor di sebuah radio. Pada tahun 1997-1999 beliau mendapatkan amanah untuk menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Selang waktu lima tahun beliau menjadi anggota DPR RI pada tahun 2004-2009. Sejak 2010 hingga sekarang beliau menjabat sebagai Bupati Banyuwangi. Untuk mendalami kebijakan publik, Anas terpilih mengikuti program studi singkat ilmu kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government (2011) dan menjadi peserta studi di The Institute of Public Administration of Canada (IPAC) di Kanada (2012).

Dalam kapasitasnya sebagai bupati Banyuwangi, beliau mengantarkan kabupaten tersebut menyabet beragam penghargaan nasional dan internasional. Beliau kini juga dipercaya sebagai ketua umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), sebuah organisasi yang mewadahi para bupati se-Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan pengembangan daerah.

Dia juga dikenal dengan inovasi pariwisata melalui Banyuwangi Festival, sebuah ajang atraksi wisata yang berisi ratusan event wisata berbasis rakyat setiap tahunnya. Banyuwangi Festival dimulai sejak 2012. Pengembangan pariwisata di Banyuwangi mendapat penghargaan inovasi kebijakan publik bidang pariwisata terbaik dunia dari Badan Pariwisata PBB (UNWTO). Selain itu, Bupati Azwar Anas ditetapkan sebagai Marketeers Of The Year kategori Public Service of The Year tingkat Jawa Timur sektor layanan publik, yakni pariwisata, pengembangan desa, dan kesehatan oleh MarkPlus Inc dan Tokoh Arsitektur Tempo dari Tempo Media Group.

Banyuwangi yang merupakan daerah di ujung Timur Pulau Jawa yang jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan dulu dikenal dengan persepsi minor berhasil ditransformasi mencapai kemajuan-kemajuan yang terukur. Berdasarkan data BPS, kemiskinan Banyuwangi berhasil diturunkan yang sebelumnya selalu di atas dua digit, sekarang hanya 7,52%. Pendapatan per kapita masyarakat juga melonjak jadi hampir 52 juta per orang per tahun yang dari sebelumnya hanya di kisaran Rp20 juta. Kabupaten Banyuwangi ditetapkan oleh Kemendagri menjadi kabupaten terinovatif pada tahun 2018 dan 2019 dan menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang meraih nilai A dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (SAKIP).

Azwar Anas memiliki beberapa terobosan atau inovasi yang membanggakan dan mendapat perhatian, salah satunya adalah melibatkan arsitek-arsitek top nasional untuk ikut menata daerah. Termasuk menginisiasi bandara berarsitektur hijau pertama di Indonesia. Bandara itu membuka aksesibilitas Banyuwangi dari sebelumnya tak ada penerbangan hingga kini melayani 7 frekuensi rute penerbangan setiap hari serta penerbangan internasional dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia.

Tidak sedikit yang ingin mengunjungi Banyuwangi. Mulai dari Kementerian, Walikota, Diplomat, hingga pihak perusahaan belajar dan mencari inspirasi inovasi dari Bupati Azwar Anas. Banyak juga yang terkesan oleh kinerja maupun prestasi yang diraih oleh Kabupaten Banyuwangi. Semua inovasi tersebut dituangkan dalam buku yang berjudul ”Anti-Mainstream Marketing: 20 Jurus Mengubah Banyuwangi” yang diterbitkan Penerbit Gramedia. Buku tersebut memaparkan 20 prinsip kreatif mengembangkan Banyuwangi dengan pendekatan-pendekatan tak lazim seperti Setiap Dinas adalah Dinas Pariwisata, Dari Kota Santet Menuju Kota Internet, Semakin Terbawah Semakin Prioritas Teratas, Semakin Misteri Semakin Diminati, Semakin Tersembunyi Semakin Dicari, hingga Rumah Sakit Bukan Tempat Orang Sakit. Program ‘Rantang Kasih’ yang diinisasi Azwar Anas didistribusikan kepada warga lanjut usia yaitu berupa makanan bergizi setiap hari secara gratis dan pemberian uang saku setiap hari untuk pelajar kurang mampu. Selain itu, di Banyuwangi juga ada Program Smart Kampung yang mendorong penggunaan teknologi dalam pelayanan publik berbasis desa. Banyuwangi menjadi kabupaten pertama yang mempunyai Mall Pelayanan Publik dengan lebih dari 200 dokumen/izin di satu tempat.