Via Video Conference, Bupati Anas Bicara Strategi Kepemimpinan di Peserta Diklat LAN

Banyuwangi – Model kepemimpinanan yang dilakukan Bupati Abdullah Azwar Anas saat memimpin Banyuwangi terus menjadi benchmark bagi banyak kalangan. Tak ketinggalan bagi 54 pejabat eselon II dari sejumlah instansi pemerintahan yang menyerap ilmu Bupati Anas dalam video conference Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II yang digelar secara virtual oleh Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Kajian Manajemen Pemerintahan, Lembaga Administrasi Negara (Puslatbang KMP LAN) RI, Jumat (12/6/2020).

Kelas virtual bertajuk “Isu Strategis: Kepemimpinan Kewirausahaan” tersebut, dipimpin langsung Kepala Puslatbang KMP LAN Dr. Andi Taufik, yang diikuti puluhan pejabat eselon II dari sejumlah instansi pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Anas membeberkan sederet strategi kepemimpinannya selama hampir sepuluh tahun memimpin Banyuwangi. Salah satunya, terus berinovasi.

“Salah satu kunci sukses kepemimpinan adalah tak pernah puas berinovasi. Pemimpin harus kreatif melahirkan ide-ide baru untuk menembus segala keterbatas daerah,” kata Anas.

Anas mengaku, inovasi yang dikembangkan Banyuwangi sebenarnya berangkat dari keterbatasan yang ada. Misalnya, untuk efektivitas pelayanan publik hingga ke pelosok desa, Banyuwangi membuat program ”Smart Kampung” yang mendorong pelayanan desa berbasis teknologi informasi (TI). Saat ini, 189 desa di Banyuwangi telah teraliri serat optik (fiber optic).

“Program ini bisa melipat waktu dan jarak. Dengan Smart Kampung, secara bertahap administrasi cukup diselesaikan di desa. Saat pandemi Covid-19, Smart Kampung juga memudahkan pendataan penerima bansos. Sistem akan otomatis menolak data warga yang telah tercover skema bantuan, sehingga menghindari adanya tumpang tindih penerima,” terangnya.

Sama halnya di bidang pendidikan, Banyuwangi membuat program Banyuwangi mengajar dengan mengirimkan para sarjana yang baru lulus ke sekolah-sekolah terpencil.

Anas lantas menambahkan, kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan birokrasinya. Pemimpin harus bisa menggerakkan mesin birokasi untuk mewujudkan program-program pro-publik.

“Di Banyuwangi, kami gerakkan birokrasi dengan instrumen festival. Selain sebagai atraksi, festival mampu menjadi ajang konsolidasi yang ampuh. Hasilnya sangat nyata, jika di awal kami menjabat ego sektoral masih sangat terasa di antara OPD, kini semuanya saling bahu membahu dengan satu tujuan yang sama memajukan Banyuwangi,” terang Anas.  

Selanjutnya, pemimpin harus bisa menyamakan frekuensi dengan para stafnya. Kebijakan pimpinan harus detail sehingga bisa dieksekusi dengan tepat hingga di tingkat bawah.

”Ini kami siasati dengan selalu berkomunikasi dengan para birokrat. Saya rutin menggelar rapat secara langsung maupun virtual. Sehingga ide-ide yang muncul bisa segera dieksekusi,” pungkasnya. (*)