Tujuh UMKM Berkolaborasi Luncurkan Kanggi, Oleh-Oleh Keren Khas Banyuwangi

 

BANYUWANGI - Para pelaku ekonomi kreatif Banyuwangi dengan pendampingan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan Kanggi, oleh-oleh khas Banyuwangi yang dikemas dengan desain dan modifikasi terbaru. Kanggi adalah kependekan dari “Keranjang Rasa Banyuwangi”.

 

“Ini adalah branding baru untuk kemasan buah tangan hasil kolaborasi tujuh pelaku usaha kreatif berskala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi. Saya senang sekali semuanya berkolaborasi. Kunci hidup ini ya kolaborasi. Kalau kolaborasi, kita bisa maju lebih cepat. Pemerintah daerah pun harus lebih kolaboratif dengan mengajak semua pihak berkembang bersama,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat perkenalan produk anyar tersebut di Pendopo Banyuwangi, Jumat malam (10/11).

 

Kanggi disajikan dalam bentuk keranjang anyaman bambu yang berisi bermacam-macam oleh-oleh khas Banyuwangi. Kanggi merujuk pada Kangge yang dalam bahasa Using (suku asli Banyuwangi) berarti persembahan.

 

Kanggi dikemas sepraktis mungkin yang isinya berbagai varian produk lokal Banyuwangi. Mulai dari kain batik, kudapan ringan, kopi, suvenir, hingga sabun vco.

 

Ada tujuh UMKM Banyuwangi yang dilibatkan dalam proyek ini. Di antaranya Batik Godho, Widya Handycraft asal Desa Gintangan, Kopi Lego asal Desa Gombengsari, Ala Kuwung Suvenir, Tukul Rizki Banyuwangi yang memproduksi sabun vco dan wewangian, Sri Mulyo asal Desa Sragi yang memproduksi kudapan khas lokal, dan jamu Meneer Deles.

 

"Kemasan oleh-oleh ini sangat menarik, saya nggak nyangka bisa sebagus ini. Dalam waktu dekat saya ada rencana tugas ke luar negeri, Kanggi akan saya sebagai oleh-oleh khas Banyuwangi. Ini bukti sinergis yang baik antara daerah dengan pusat. Daerah ada potensi, pusat dengan keilmuannya bisa berkolaborasi menghasilkan produk kreatif yang menarik. Dan ini terus perlu didorong," kata Anas.

 

Anas mengatakan, produk anyar hasil kolaborasi ini memunculkan karya dan produk baru yang punya nilai tambah, namun tidak menghilangkan keunikan ciri-ciri lokalnya. Ini bisa meningkatkan daya saing UMKM yang berujung pada peningkatan pendapatan.

 

"Kami berterima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang berkomitmen mengembangkan ekonomi kreatif berbasis desa. UMKM daerah bisa mendapatkan ilmu selama pendampingan oleh Bekraf sehingga daya saing pelaku ekonomi kreatif di daerah meningkat,"ujar Anas. 

 

Direktur Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf Poppy Savitri mengatakan, selama empat bulan terakhir Bekraf intens mendampingi UMKM Banyuwangi.

 

"Kita mengolaborasikan antara para desainer yang berbasis akademik dan teknologi dengan budaya lokal Banyuwangi, serta para perajin yang berbasis desa dan komunitas," kata Poppy.

 

"Melalui Kanggi para UMKM Banyuwangi ini persembahkan seluruh rasa Banywuangi yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas. Yang ada dalam keranjang ini kami harapkan bisa menyentuh semua indra yang ada di manusia. Ada aroma kopi, rupa dari batiknya, kudapan yang bisa dicecap, ada suvenir kerincing dan lengking yang menyuarakan musik bambu Banyuwangi, yang semua ini terkemas dalam bambu lokal dari Desa Gintangan Banyuwangi yang sudah sangat terkenal," pungkas Poppy.

 

Beragam hasil kolaborasi UMKM Banyuwangi itu juga dipamerkan di Taman Blambangan berbarengan dengan pelaksanaan Banyuwangi Ethno Carnival yang selalu dijejali ribuan wisatawan.