Terinspirasi Banyuwangi Terapkan TI, Luwu Timur Berguru ke Banyuwangi

BANYUWANGI – Keberhasilan Kabupaten Banyuwangi memanfaatkan teknologi informasi (TI) sebagai kendaraan percepatan pelayanan publik mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan yang bertandang ke Banyuwangi, Selasa (13/2), karena  terinspirasi cara Banyuwangi terapkan TI.

Ketua rombongan, Amran Aminuddin yang juga Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Luwu Timur, Sulsel mengungkapkan, sangat mengapresiasi prestasi yang telah diraih Banyuwangi. Khususnya kesuksesan dalam memanfaatkan TI untuk mempercepat pelayanan publiknya.

"Kami  mendengar Banyuwangi sudah advance pemanfaatan TI - nya. Baik dalam pengelolaan keuangan, sistem informasi, maupun sistem lainnya. Makanya, saya membawa rombongan dari Diskominfo Luwu Timur untuk penjajakan terkait kerjasama di bidang pemanfaatan TI,” kata Amran.

Amran juga mengaku, pihaknya tertarik untuk menggali dan belajar serius tentang penerapan IT di Banyuwangi. “Kami ingin belajar tentang berbagai aplikasi yang dikembangkan di sini,” ungkapnya.

Saat menemui rombongan di Kantor Pemkab Banyuwangi, Kepala Diskominfo Kabupaten Banyuwangi, Budi Santoso membenarkan bahwa seluruh pelayanan publik di Banyuwangi telah berbasis TI, terintegrasi mulai tingkat desa hingga kabupaten. Misalnya, terkait pengelolaan keuangan desa yang mendapatkan dana besar dari APBN dan APBD, Banyuwangi mengembangkan e-village budgeting dan e-monitoring system. Perencanaan hingga pelaporan di tingkat desa terintegrasi dalam sebuah sistem.

“Misalnya untuk penguatan desa, pemerintah menggagas program “Smart Kampung” yang mendorong pelayanan desa berbasis teknologi informasi (TI). Dengan Smart Kampung, secara bertahap administrasi cukup diselesaikan di desa. Maka, TI menjadi kendaraannnya karena yang berjalan adalah data, bukan orangnya,” jelas Budi.

“Saat ini sebagian desa sudah menerapkan Smart Kampung, termasuk yang jauh dari pusat kota. Bahkan sebagian besar desa teraliri fiber optic,” paparnya.

Sementara untuk mempercepat pelayanan di tingkat desa, lanjut Budi, bupati telah mendelegasikan kewenangannya ke desa. Seperti, pembenahan rumah tidak layak huni. “Dulu bupati yang harus menandatangani suratnya, sehingga rentangnya panjang dan terkesan lamban. Namun, dengan bantuan TI sekarang pengurusannya cukup di tingkat desa sehingga lebih cepat tertangani,” bebernya.

Kesempatan itu juga tak disia-siakan rombongan Kabupaten Luwu Timur untuk mengetahui lebih jauh bagaimana Banyuwangi menggunakan TI-nya. Salah satunya dengan cara melihat langsung dari touch screen yang ada di Lounge Pelayanan Public Banyuwangi yang menyediakan informasi lengkap soal Banyuwangi. (*)