Simpang Lima, Diharapkan Jadi Landmark Banyuwangi


BANYUWANGI- Untuk memperkuat jati diri sebuah kota, perlu ada sebuah patokan atau tetenger. Untuk Banyuwangi, Simpang Lima lah lokasi yang tepat. Hal itu dikemukakan Bupati Abdullah Azwar Anas saat rapat koordinasi terbatas bersama Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Bina Marga dan Tata Ruang, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Camat Kota di Aula Minak Jinggo Kantor Pemkab, Rabu (7/9).

Menurut Bupati Anas, para perantau asal Banyuwangi di berbagai tempat yang ditemuinya selalu menceritakan
kenangan mereka tentang Perliman (Simpang Lima).  Hal pertama yang mereka tanyakan, lanjut bupati, pasti tak lepas dari kondisi di sekitar persimpangan tersebut. Hal inilah yang menimbulkan ide pada Bupati untuk menata kawasan di sekitar Simpang Lima agar bisa menjadi Landmark Banyuwangi.

Pemilihan Simpang Lima sebagai tetenger Banyuwangi selain karena persimpangannya yang unik – ada lima – di sekitar kawasan tersebut juga banyak terdapat bangunan-bangunan kuno yang sedikit banyak mampu menuturkan kondisi Banyuwangi tempo dulu. Untuk itu, Bupati Anas bertekad menetapkan cagar budaya yang berada di sekitar kawasan tersebut agar keaslian wajah Banyuwangi masih terbaca sepanjang jaman, termasuk bangunan kuno lain yang ada di Banyuwangi. Seperti rumah kuno yang berada di sisi Timur dan Selatan persimpangan tersebut.

Keinginan untuk menata kota tidak berhenti di situ saja. Bupati juga ingin menciptakan “sumbu-sumbu kota” baru yang bakal menjadi pusat aktivitas warga namun tetap ramah lingkungan. Kawasan Pendopo Kabupaten contohnya. Di kawasan yang terdapat Masjid Jami' dan Taman Sri Tanjung diharapkan Bupati bisa menjadi mercu suar kota. Masyarakat diharapkan bisa menikmati sisi lain Banyuwangi, karena di situ masyarakat selain bisa menikmati keindahan kota Banyuwangi juga bisa langsung merasakan kekhasan pasar tradisional. “Hal ini diharapkan juga menjadi daya tarik bagi turis mancanegara yang mengunjungi kota kita,” harap Bupati. (HUMAS)