Riza Permadi Juarai Kompetisi Kreativitas Seduh Kopi Manual Banyuwangi

 BANYUWANGI –   Riza Permadi dinobatkan sebagai Juara 1 dalam Kompetisi Kreativitas Seduh Kopi Manual yang dilangsungkan Sabtu (17/12), di Gedung Wanita Banyuwangi. Kompetisi yang digelar Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerjasama dengan Pemkab Banyuwangi ini diikuti para barista lokal Banyuwangi.

Menyusul Riza, di posisi kedua dan ketiga secara berturut-turut Emir Yusuf dan Adi Bramastya. Selain itu juga ada pemenang kreatif, Agung Tripadianto.

Apresiasi mendalam diberikan oleh para juri. Seperti diungkapkan salah seorang juri, Daroe Handojo. “Saya salut. Para peserta ini punya sisi kreativitas yang luar biasa. Mereka ini menyeduh menggunakan alat yang biasa, tapi hasil seduhannya bagus sekali. Ada juga yang bawa kompor sendiri untuk ‘bermain’ suhu,” kata Daroe yang juga seorang Q-Grader. Q-Grader adalah pencicip cita rasa kopi yang tersertifikasi oleh Coffee Quality Institute (CQI) di seluruh dunia.

Daroe kemudian mencontohkan bagaimana seorang Riza Permadi yang menjadi juara pertama mampu memanfaatkan barang yang sepele menjadi berguna. “Riza ini kreatifitasnya patut diacungi jempol. Dia ini memotong botol plastik dan mengubah fungsinya sebagai alat ‘V60’,” beber Daroe.

V60, imbuh Daroe, merupakan alat seduh kopi dengan metode pour over, yakni metode penyeduhan kopi yang membutuhkan proses yang jeli. Sekilas, bentuknya seperti cangkir biasa yang digunakan untuk minum teh. Dengan V60, kata Daroe, karakter kopi yang dihasilkan akan memberikan kepuasan bagi yang meminumnya. Seperti aroma yang lebih kuat, hasil kopi yang bersih, dan menonjolkan karakter-karakter tertentu. V60 biasanya banyak digunakan di cafe-cafe terkemuka.

Dengan V60 sederhananya, ujar Daroe, Riza menghasilkan taste kopi yang luar biasa.  “Memang sebelum lomba, para peserta ini kami minta mencicipi kopi yang kami berikan, setelah itu kita suruh mengulang rasa kopi yang mereka cicipi dari bubuk kopi dan air panas yang kami sediakan. Hebatnya, Riza mendapatkan nilai 85. Sebuah angka yang sempurna dalam perlombaan menyeduh kopi,” ujar Daroe.

Daroe juga memuji Riza yang mampu menyelesaikan seduhan kopinya dalam waktu 3 menit 54 detik dari jangka waktu 10 menit yang diberikan. “Dia sudah menyatu dengan alam,” pujinya.

Menurut Daroe, kompetisi yang benar-benar baru ini digagas  sebagai bentuk antisipasi bagi para barista apabila mereka menemui masalah saat menyeduh kopi. “Lomba ini bukan tentang kesempurnaan. Awalnya timbul saat para barista ‘bertarung’, ternyata tekonya nggak panas. Nah masalah ini yang harus diantisipasi. Barista juga harus siap dengan permintaan konsumen. Makanya sebelum bikin kopi, barista harus nanya, konsumen pengen kopi yang gimana. Kalau konsumen punya sakit lambung dan minta kopi yang nggak berasa asam, ya berarti saat menyeduh, suhunya harus dinaikkan,” terang owner Kopi Boutique Jakarta ini.

Banyuwangi menjadi lokus kompetisi seduh manual kedua setelah Jakarta. Daroe berjanji tahun 2017, pihaknya akan menggelar kompetisi kembali di Banyuwangi dengan persiapan yang lebih matang. “Ternyata barista Banyuwangi sudah jago-jago. Nanti kita mau bikin lagi disini tahun 2017 dengan grade yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Terkait kopi Banyuwangi, Daroe melihat prospeknya sangat cerah. “Prospek perkembangan kopi Banyuwangi ini bagus. Saya sudah rasakan kopi Ijen, Raung, Gombengsari dan Kemiren. Semua punya kekhasan tersendiri yang asyik untuk diulik. Itu kan tempat tumbuhnya juga beda-beda, sehingga berpengaruh di rasa. Mainkan saja teknik sangrainya. Selera pasar sekarang kan kalau nggak disangrai sampai dark hingga berasa pahit, bisa juga medium. Saran saya, sebelum coba kopi lain, cobalah terus mengeksplore kopi lokal terlebih dahulu,” cetus Daroe.

Sementara itu, Riza Permadi yang ditemui usai ditasbihkan sebagai juara mengatakan, dirinya tak menyangka bisa menjadi juara pertama. “Alhamdulillah bisa terpilih jadi juara I. Padahal lawan saya tangguh-tangguh. Mereka punya teknik khusus agar kopi seduhannya sesuai yang diminta juri,” ujar Riza sambil tertawa.

Riza mengaku dalam pembuatan V60 andalannya, dirinya tidak punya rahasia khusus. “Waktu itu mau bikin kopi tapi dripper (corong)-nya nggak ada. Cuma ada paper filter dan kopi bubuk saja. Kok saya lihat ada botol kosong. Ya sudah, saya potong aja menyerupai  V60 yang digunakan dalam metode pour over,” pungkas Riza yang juga merupakan pengusaha muda pemilik Jhon Banana Crispy di daerah Genteng, Banyuwangi ini. (Humas)