Warga Boyolangu Gelar Tradisi Puter Kayun

BANYUWANGI - Ribuan warga Kelurahan Boyolangu, Banyuwangi, Jumat (9/9) menggelar tradisi Puter Kayun. Mereka bepergian bersama-sama menuju Pantai Wisata Watu Dodol. Untuk menuju pantai yang berjarak sekitar 15 kilometer, warga memakai delman atau dokar. Karena jumlah dokar semakin berkurang, sebagian besar warga akhirnya menggunakan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Sebelum ada kendaraan, cerita Rugito, Ketua Paguyuban Dokar Boyolangu, perjalanan menuju pantai menggunakan dokar, karena dulunya sebagian warga bekerja sebagai penarik dokar. "Tapi sekarang tersisa hanya 13 dokar saja," kata Rugito.

Iring-iringan tradisi Puter Kayun diberangkatkan oleh Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko sekitar pukul 14.00 WIB.Ketika sampai di pantai, acara dilanjutkan dengan memotong tumpeng. Sebagian tokoh adat kemudian menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal saat pembuatan jalan. Tradisi tersebut ternyata juga menjadi ajang berlibur dan bersilaturahmi bagi mereka yang tak sempat bertemu selama Lebaran.

Dalam sambutannya Wabup mengharapkan tradisi puter kayun dapat dilestarikan. Karena puter kayun ini dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat untuk terus berjuang mempertahankan Banyuwangi dan melestarikan budaya. "Banyuwangi yang kita tempati saat ini bukan hadiah dari penjajah, namun hasil perjuangan para pendahulu kita, untuk itu kita harus menjaganya, " tegasnya. 


Menurut ketua Panitia Tradisi Puter Kayun, Samsul Hadi, tradisi yang dilaksanakan turun-temurun itu sebagai wujud ucapan syukur warga karena dapat merayakan Lebaran. Samsul menambahkan warga dapat melakukan napak tilas pembukaan jalan dari Desa Boyolangu ke Watu Dodol yang dulu dilakukan Buyut Jakso, seseorang yang pertama kali membuka kampung. "Dulu, Buyut Jakso membuat jalan dari Boyolangu ke Watu Dodol," kata Samsul.
(Humas)