Peserta Diklatpim IV Kabupaten Pringsewu Benchmark Pelayanan Publik ke Banyuwangi

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi terus menjadi contoh best practices daerah lain di Indonesia. Kali ini, peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepimpinan (Diklatpim) IV Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung melakukan benchmarking perihal pelayanan publik di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa itu. 

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Pringsewu, Romzi Halim, mengatakan Banyuwangi dipilih sebagai lokasi benchmarking peserta diklat karena perkembangannya yang luar biasa dalam waktu lima tahun terakhir.

"Saya lihat dari berbagai media, Banyuwangi berkembang sangat pesat dalam waktu yang cukup singkat. Hanya dalam lima tahun,  daerah ini bisa bertransformasi menjadi daerah yang luar biasa. Inilah alasan kami datang kemari untuk belajar banyak hal dari Banyuwangi. Terutama tentang pelayanan publik," ungkap Romzi.  

Benchmarking merupakan proses membandingkan dan mengukur suatu kegiatan organisasi terhadap proses operasi terbaik di kelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Romzi hadir bersama 40 perserta Diklatpim IV dari Kabupaten Pringsewu. Selain pelayanan publik, kata Romzi, sejumlah inovasi dari Banyuwangi juga menjadi daya tarik tersendiri, salah satunya tentang inovasi pariwisata.

“Kami juga ingin menimba spirit inovasi yang terus dilakukan Banyuwangi. Setelah melihat langsung best practices di Banyuwangi, kami harap wawasan mereka semakin terbuka untuk menciptakan proyek perubahan di tempat masing-masing,” imbuhnya.

Asisten Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, Choiril Ustadi, dihadapan para pejabat eselon IV tersebut menjelaskan secara gamblang inovasi Banyuwangi dalam melakukan percepatan pelayanan publik. Misalnya, program ”Smart Kampung” yang mendorong pelayanan desa berbasis teknologi informasi (TI). Sebagai kabupaten terluas di Pulau Jawa, jarak desa dan pusat kota di Banyuwangi sangat jauh dengan waktu tempuh bisa mencapai tiga jam. Warga yang butuh dokumen harus menuju ke kantor kecamatan atau pusat kota yang lokasinya cukup jauh, sehingga tidak efisien.

”Dengan Smart Kampung, secara bertahap administrasi cukup diselesaikan di desa. Tapi tentu butuh TI karena yang berjalan adalah datanya, bukan orangnya. Saat ini sebagian desa sudah menerapkan Smart Kampung, termasuk yang jauh dari pusat kota. Sudah sekitar 60 desa teraliri fiber optic, kita targetkan 145 desa tersambung fiber optic pertengahan 2018,” papar Ustadi saat menerima rombongan tersebut di Ruang Rapat Minak Jinggo, Selasa (12/9).

Untuk mempercepat pelayanan di tingkat desa, lanjutnya, bupati juga telah mendelegasikan kewenangannya ke desa. Misalnya, pembenahan rumah tidak layak huni. ”Dulu itu harus bupati yang tanda tangani suratnya, sehingga prosesnya panjang. Sekarang cukup di tingkat desa,” ujar Ustadi.

Sementara di bidang pariwisata, lanjut Ustadi, Banyuwangi konsisten melakukan promosi daerah melalui event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival. Tahun 2017 ini ada 72 even digelar sepanjang tahun sebagai cara mengungkit kunjungan wisatawan.

Ditambahkan dia, dalam menyelenggarakan festival-festival atau memberikan pelayanan publik, Banyuwangi selalu melakukannya secara keroyokan antar SKPD. Semua ego sektoral masing-masing SKPD ditanggalkan sehingga pelaksanaan event-event bisa dikerjakan dengan tanpa menggunakan event organizer (EO) dari luar, semuanya cukup ditangani oleh PNS. “Kami pun menuntut PNS agar bisa menjadi public relation bagi Banyuwangi. Sehingga  mereka bisa menyuarakan tentang Banyuwangi ke dunia luar,” tuturnya.

Untuk pengembangan obyek pariwisata, lanjut dia, Banyuwangi tak meniru dearah lain. Cukup memaksimalkan potensi pariwisata yang ada. Seperti gunung, pantai, perkebunan, hutan dan persawahan menjadi destinasi yang siap dikunjungi wisatawan.

“Beberapa destinasi wisata harus bagus aksesnya, kecuali yang memang dikonsep adventure. Untuk akses ini, kami melengkapi infrastruktur pendukungnya. Seperti bandara dan  pembangunan jalan menuju akses wisata,” ujarnya. 

Geliat bisnis dan pariwisata di Banyuwangi bisa dilihat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di Banyuwangi pada tahun 2016 ada 77 ribu, melampui yang ditargetkan 50.000 orang. Adapun wisatawan domestik di tahun 2016 mencapai 3,2 juta juga melampaui yang ditargetkan dengan angka 2 juta. Jumlah wisatawan ini diverifikasi dari data hotel dan pengelola destinasi wisata.

Sebelumnya, rombongan juga sempat berkunjung ke Lounge Pelayanan Publik Pemkab Banyuwangi dan menjajal berbagai layanan melalui fasilitas touch screen yang disediakan. (*)