Peringati Hari Jadi Ke-66, PGRI Adakan Seminar Nasional

KABAT – Dalam rangka memperingati  Hari Jadi ke-66 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang jatuh pada tanggal 25 November 2011, PGRI mengadakan Seminar Nasional bertajuk “Membangun Karakter Bangsa Melalui Guru Profesional dan Berkarakter”, Minggu (11/12).

Acara yang diadakan di wahana Agro Wisata Alam Indah Lestari (AIL), Kabat,Banyuwangi,  ini menghadirkan beberapa nara sumber yang membahas tuntas perlunya pengimplementasian pendidikan secara holistik dalam  pembangunan karakter bangsa. Ratusan guru- guru yang hadir tampak serius dan asyik menikmati pokok bahasan yang diketengahkan oleh nara sumber.

Bupati Abdullah Azwar Anas, selaku salah satu nara sumber menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus mensupport para guru. Tingkat kesejahteraan guru juga akan diperhatikan, sehingga dengan meningkatnya kesejahteraan guru, diharapkan pendidikan juga akan semakin baik. “Ada berita gembira untuk para GTT (Guru Tidak Tetap). Tahun 2012 ini para GTT akan mendapatkan insentif dari pemkab. Sedangkan untuk madrasah-madrasah diniyah, jika selama ini hanya sekolah-sekolah formal yang mendapatkan BOS (Biaya Operasional Sekolah), maka tahun 2012 pula madrasah-madrasah diniyah akan mendapatkan dana BOS pula sebesar Rp 9 miliar,” ujar bupati Anas yang disambut tepuk tangan para peserta seminar. Terkait kenakalan remaja, bupati meminta agar para guru bekerjasama dengan Muspika untuk langkah-langkah preventifnya.

Lebih jauh bupati menyampaikan harapannya, supaya upaya  yang dipersiapkan para guru dapat berguna  untuk menyongsong Indonesia Emas pertama tahun 2020, Indonesia Emas kedua tahun 2030 dan Indonesia Emas ketiga tahun 2045.

Seminar ditutup oleh key note speaker, Prof.DR. Said Aqil Siradj, yang juga Ketua Umum PBNU sekaligus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Said menyampaikan rahasia kesuksesan kyai-kyai jaman dahulu, yang bisa dipraktekkan pula oleh guru-guru masa kini, yaitu adanya ta’lim (transfer of knowledge) yang ajeg yang dilakukan para kyai terhadap santrinya. Meskipun bukan jam belajar, kapanpun santri butuh penjelasan atas suatu permasalahan, kyai dengan tulus ikhlas akan menjawabnya, tanpa perlu memungut tambahan biaya dari para santri. Yang kedua, di pesantren juga ada tadris (Experience and Experiment) dimana santri diajarkan dan dibawa untuk mempraktekkan ilmunya. Yang ketiga adalah ta’dim (disiplin) yaitu menjunjung tinggi peraturan meski tanpa diawasi. Dan yang terakhir adalah tarbiyah (pendidikan), dimana didalamnya ada murobbi atau pendidik yang menindaklanjuti tugas dari  Allah.(Humas & Protokol)