Pemkab Banyuwangi Siapkan Rp 8,3 Miliar untuk Insentif Guru Ngaji

 

Banyuwangi  – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyiapkan insentif bagi guru ngaji sebesar Rp. 8,3 miliar pada tahun ini. Rencananya insentif dalam bentuk dana hibah tersebut akan disalurkan kepada ribuan guru ngaji se-kabupaten Banyuwangi.

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, sejak tahun 2011 pemerintah kabupaten menyalurkan insentif bagi guru ngaji sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih atas perannya dalam dunia pendidikan. Karena selain memberi pendidikan agama, guru ngaji berperan penting membentuk akhlak mulia anak-anak.

“Buat kami peran guru ngaji tidak kalah pentingnya dari guru di sekolah formal. Karena biasanya peserta ngaji di TPA-TPA itu anak-anak mulai usia pra sekolah hingga sekolah dasar. Di usia-inilah penanaman akhlak mulia pada anak sangat tepat dilakukan yang bisa didapatkan dari para guru ngaji,” kata Bupati Anas.

 “Karenanya kami berterima kasih atas kegigihan dan keihkhlasan para guru ngaji dalam mendidik putra putri generasi penerus Banyuwangi. Insyaallah ilmu yang telah diberikan ke anak-anak didik akan menjadi amal jariyah yang akan terus membawa manfaat,” ujar Anas.

Ditambahkan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat H.M Lukman, Pemkab Banyuwangi telah menyalurkan insentif bagi guru ngaji sejak tahun 2011 hingga 2018. Pada 2019 tidak ada penyaluran insentif karena fokus pada pembaharuan data jumlah guru ngaji.

“Setiap tahun selalu ada pemberian insentif bagi guru ngaji, baru berhenti pada 2019 karena update data,” ujar Lukman.

Lukman mengatakan selama ini insentif tersebut disalurkan kepada para guru ngaji lewat lembaga melalui proses hibah. Yakni melalui Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama Nabawi dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur’an (LPPTKA) Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia.

“Karena lewat proses hibah maka prsesnya harus didahului dengan pengajuan dari kedua lembaga tersebut untuk penyaluran. Kalau tidak mengajukan permohonan hibah, maka pemkab tidak bisa mengeluarkan dana tersebut,” ujar Lukman.

Terkait tidak adanya penyaluran insentif kepada sejumlah guru ngaji di tahun 2016-2018, hal ini terjadi karena salah satu lembaga tersebut tidak melakukan pengajuan kepada pihak Pemkab.

“Lembaga tersebut tidak melakukan pengajuan dikarenakan terdapat beberapa rekomemdasi BPK pada penyaluran sebelumnya. Selain itu, lembaga yang bersangkutan saat itu kepengurusannya juga vakum. Namun penyaluran tetap berlangsung oleh lembaga yang lainnya,” ujarnya.

Pada tahun 2020 ini, Lukman menjamin penyaluran insentif pada guru ngaji akan berjalan dengan lancar. Data guru ngaji juga telah terupdate maka tidak perlu ada kekhawatiran lagi akan tiadanya penyaluran insentif bagi guru ngaji.

“Insyaallah tahun ini penyaluran akan dilakukan dengan lancar sesuai data yang telah di-update,” pungkas Lukman. 

Penyaluran insentif ini disambut gembira oleh para guru ngaji. Hal tersebut dinilai sebagai bentuk apresiasi dan perhatian dari Pemerintah.

"Tidak dipungkiri, memang ada guru ngaji yang mengharapkan, karena rutin menerima tiap tahun," ujar Koordinator Guru Ngaji Kecamatan Wongsorejo Ustaz Ahmad Saifullah. (*)