Pameran Barang Antik Banyuwangi, Membawa Kembali Ingat Rumah Nenek

 

BANYUWANGI - Menggeliatkan ekonomi lokal, Kecamatan Kota Banyuwangi menggelar pameran barang antik. Beragam barang kuno dipamerkan di halaman kantor kecamatan yang membawa pengunjung seolah kembali ke masa lalu. 

Pameran bertajuk Blambangan Antik itu digelar mulai 7 hingga 16 Agustus. Terdapat berbagai barang-barang kuno seperti gelas, piring, lemari, meja, alat komunikasi, yang usianya sudah ratusan tahun, mengingatkan kita saat berkunjung ke rumah nenek.

Banyak juga barang-barang masa kolonial Belanda dan Jepang. Seperti lemari pendingin (kulkas) zaman kolonial Belanda sekitar 1900-an, yang masih terbuat dari kayu. Kulkas ini berupa kotak kayu yang dilengkapi dengan compressor dan bisa menyimpan makanan.

Ada juga proyektor film Sekonic 80J Auto. Terdapat juga uang koin kuno zaman kerajaan. Ada koin kuno Sutan Muhammad Bahduddin, Palembang, Sumatera Selatan, tahun 1193 H atau 1776-1803 M. Ada juga komik berbahasa mandarin yang telah berusia tua, dan barang-barang antik lainnya.

Ada juga barang-barang kuno khas Banyuwangi. Mulai rumah asli Banyuwangi, lemari, kursi hingga barang kecil seperti gelas dan manik-manik.

Agus Karim, Ketua Panitia Blambangan Antik, mengatakan pameran ini digelar untuk mengobati kerinduan para pecinta barang antik. "Kami memperkenalkan budaya kita zaman dahulu. Berbagai peralatan dapur kami pun juga ada," kata Agus.

Pameran ini diikuti 20 vendor pemilik barang antik di Banyuwangi. "Sebenarnya terdapat sekitar 60 vendor pemilik barang antik di Banyuwang. Tapi karena keterbatasan tempat pameran, kami membatasi hanya 20 vendor," kata Agus.

Barang-barang antik di pameran juga bisa dijual dan dilelang. Agus mengatakan ternyata antusias masyarakat pada pameran ini cukup tinggi. Pengunjung cukup ramai terutama pada akhir pekan.

"Malam Minggu kami terpaksa harus menutup pintu untuk membatasi jumlah pengunjung yang terlalu banyak," kata Agus.

Camat Kota Banyuwangi M Lutfi mengatakan, kegiatan ini juga sebagai simulasi event kegiatan di tengah pandemi COVID-19. Selama pameran berlangsung aturan ketat protokol kesehatan tetap diterapkan. Seperti pengunjung harus di cek suhu badan, wajib masker, cuci tangan dan pembatasan pengunjung.

"Kami batasi jumlah pengunjung yang ada. Maksimal 50 orang. Inibsebagai implementasi dari physical distancing ya, karena memang ini harus kita tetapkan," tambahnya.

Pameran ini, kata Lutfi, juga sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi bagi para pedagang antik di Banyuwangi. Sebab selama pandemi, kegiatan jual beli barang kuno merosot.

"Sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi. Kami harap ajang ini sebagai simulasi event kegiatan pameran atau kegiatan lain yang sesuai dengan protap antisipasi penularan COVID-19," katanya.

"Ini upaya untuk membangkitkan semangat mereka lagi untuk tetap optimis menghadapi pandemi ini. Alhamdulillah, omset pameran ini per harinya mencapai jutaan, hingga belasan juta," pungkas Lutfi. (*)