Nikmati Arabian Street Food di Banyuwangi, Ridwan Kamil: Inovasi Ekonomi Lokal Luar Biasa

BANYUWANGI - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang sedang berlibur sekaligus kunjungan kedinasan di Banyuwangi menyempatkan menikmati atraksi wisata kuliner daerah ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Ridwan Kamil hadir di Arabian Street Food (Arasfo), Kamis malam (26/12). Atraksi kuliner itu dibuka setiap Kamis sore hingga malam di Kampung Arab, Banyuwangi. Selain Ridwan, hadir mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang juga sedang liburan bersama keluarga. Tiba di sana, Ridwan dan Dino dipasangkan surban sebagai tanda tamu kehormatan. 

Arabian Street Food adalah inovasi Banyuwangi mengembangkan pariwisata berbasis warga (community based tourism). Sajian yang tersedia tak kurang 160 menu. Mulai nasi kebuli, mandhi, briyani, nasi rempah, nasi kichery, sate, kaldu, gulai hingga kambing guling. Tak ketinggalan ada aneka kudapan semacam roti maryam, kebab, sambosa, basjia, shawarma, fatira, dan tamis. Minuman ala negeri gurun itu pun tersedia, mulai kopi Arab, naknak, pokak, hingga kopi Turki. Semuanya berpadu dengan sajian khas semacam madu, gandum, dan kurma. 

Bukan hanya menikmati, wisatawan bisa menyaksikan atraksi seni penyajian makanannya. Seperti kopi Arab yang pembuatannya dengan dididihkan melalui media pasir yang dipanaskan. Cara meminumnya khas, yaitu sambil mengunyah kurma. "Asyik juga cara menikmatinya," ujar Ridwan Kamil sambil mengunyah kurma sekaligus minum kopi.

Dia mengatakan, Dinas Pariwisata Jabar melakukan kunjungan ke Banyuwangi atas undangan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas untuk saling belajar soal pengembangan festival.

“Banyuwangi telah menjadi contoh bagi banyak daerah di Indonesia. Dan malam ini, yang kita lihat di sini sangat luar biasa. Bagaimana warga Arab di Banyuwangi setiap Kamis malam menggelar Arabian Street Food, sangat kreatif," kata Kang Emil, sapaan akrabnya.

Emil mengapresiasi inovasi Banyuwangi melalui atraksi kuliner lokal berbasis warga yang telah memperkuat ekonomi daerah.

"Ini menguatkan ekonomi lokal. Luar biasa. Tadi saya dengar omsetnya bisa ratusan juta setiap dibuka. Insya Allah jika yang ada di Banyuwangi ini juga dilakukan di seluruh Indonesia, maka akan mandiri ekonomi bangsa ini," kata Emil.

Suasana malam di Arabian Street Food kian malam semakin meriah dengan hadirnya kesenian musik gambus yang mengiringi tarian zapin. Emil dan Dino larut dalam kemeriahan suasana tersebut dan melebur bersama pengunjung yang turut menari zapin.

Menurut Emil, atraksi kuliner tersebut adalah adalah contoh keberagaman Indonesia yang diekspresikan lewat budaya kuliner. Semua warga dan wisatawan berbaur tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.

”Saya kira semua kota di Indonesia harus datang ke Banyuwangi. Kita tiru semangat Banyuwangi ini," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Azwar Anas mengatakan, Arabian Street Food adalah ikhtiar memacu kemandirian ekonomi warga dalam balutan wisata. 

“Warga yang dulu belum punya usaha, akhirnya buka kuliner karena membludaknya orang datang. Ini terus kami kembangkan. Pekan lalu saya bertemu pejabat konsulat jenderal Jepang, saya sampaikan rencana bikin Japanese Street Food, mereka tertarik mendukung karena di Banyuwangi juga ada komoditas sidat yang diekspor skala besar ke Jepang,” ujar Anas.

“Di beberapa dam kami juga memadukan manajemen sumberdaya air dengan ekonomi rakyat dengan membuka street food khusus ikan air tawar, seperti yang kemarin diluncurkan yaitu Oling River Food di dam kawasan Tegaldlimo. Atraksi kuliner di desa-desa juga tumbuh setiap akhir pekan,” pungkas Anas. (*)