Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Malang Sharing Masalah Pendidikan dengan Pemkab Banyuwangi

BANYUWANGI - Deretan prestasi yang telah diraih Banyuwangi terus menginspirasi banyak pihak untuk datang ke Banyuwangi. Kali ini, Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nadlatul Ulama (NU) Kota Malang kunjungi Banyuwangi untuk sharing masalah pengembangan pendidikan. Ketua Lembaga Maarif NU Kota Malang, Muhammad Sulton menyampaikan, pretasi Banyuwangi terus menjadi perbincangan, tak terkecuali masalah pendidikannya. "Untuk itu, kami terinspirasi belajar ke sini," kata Sulton saat bertemu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Sabtu (5/1). Menurut Sulton, Banyuwangi memiliki banyak program pendidikan yang kaya manfaat. Termasuk program-program pendidikan yang ditujukan untuk siswa yang kurang mampu. "Kami juga ingin sharing masalah itu, termasuk juga sejumlah program pendidikan yang bisa memacu prestasi siswa," kata Sulton. Sementara itu, Bupati Anas merasa senang atas kedatangan LP M'arif NU Malang ke Banyuwangi, sehingga bisa sharing dengan pemkab masalah pendidikan. Anas lalu menjelaskan sejumlah program pendidikan di Banyuwangi. Mulai dari beasiswa Banyuwangi Cerdas, Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh), gerakan bersama Siswa Asuh Sebaya (SAS) dan program pemberian uang saku kepada siswa yang tidak mampu. "Setiap tahun kami kucurkan beasiswa untuk tak kurang 100 mahasiswa. Mereka yang telah lulus, lalu kami minta mengabdi mengajar di sekolah-sekolah pelosok Banyuwangi untuk menjadi motivasi bagi siswa di sana. Alhamdulillah, kemarin waktu pengangkatan CPNS tahun ini, ada tiga orang sarjana jebolan beasiswa Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Mengajar lolos seleksi CPNS," kata Anas bangga. Pemkab, kata Anas, juga menyediakan program pengaman sosial bidang pendidikan. Seperti program pemberian Uang Saku dan transport bagi siswa kurang mampu. Pemerintah menyiapkan Rp 1,9 miliar untuk 1.000 anak miskin. Dengan rincian, untuk siswa SD/MI sebesar Rp 5 ribu tiap hari, SMP/MTs Rp 10 ribu per hari, dan SMA/MA/SMK Rp 15 ribu per hari, termasuk untuk siswa Sekolah Luar Biasa. "Kadang semua kebutuhan sudah tersedia, hanya karena masalah uang jajan dan biaya transport menjadi alasan anak tidak bisa sekolah. Lewat program ini, kami berharap tidak ada anak putus sekolah di Banyuwangi," pungkas Anas.