Lembaga Milik Bos Walmart Mulai Permak Tambak Udang di Banyuwangi

BANYUWANGI – Program akuakultur pengelolaan tambak udang ramah lingkungan di Banyuwangi yang didukung Walton Family Foundation mulai berjalan. Selain kerja bareng dengan Pemkab Banyuwangi, institusi filantropi Amerika Serikat itu menggandeng empat organisasi non-pemerintah (NGO/non-governmental organization) untuk menjalankan program budidaya perikanan tersebut. “Kami telah bertemu dengan Pemkab Banyuwangi dan asosisasi petambak udang. Kami juga sudah menggelar kick-off meeting sebagai tanda bahwa program ini siap dimulai,” kata Direktor Program Kemaritiman dari Conservation International (CI) Indonesia, Victor Nikijuluw. CI Indonesia adalah salah satu NGO yang diajak kerja sama dalam program yang didanai Walton Family Foundation tersebut. Walton Foundation sendiri adalah yayasan yang didirikan Keluarga Walton, pendiri jaringan supermarket terbesar di dunia, Walmart. Pada 2018, yayasan ini mengeluarkan hibah Rp 8,5 triliun untuk menjalankan misi sosial, termasuk program perikanan lestari di berbagai negara. Victor mengatakan, program ini akan berjalan hingga dua tahun ke depan. Dalam kurun waktu itu, ada pendampingan penataan budidaya, teknik, serta pengembangan kapasitas petambak, termasuk dengan pendekatan ekonomi kreatif. “Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas petambak udang dan produktivitas udang lewat pengelolaan tambak berkelanjutan. Tambak udang juga akan dikemas sebagai destinasi wisata yang menarik,” ujarnya. Manajer Kebijakan Karbon Biru dan Perikanan CI Indonesia, Audrie J Siahainenia, menambahkan, program ini diawali dengan mengumpulkan data dasar tambak udang. Seperti karakteristik tambak udang, pengusahaannya, hingga rantai dagang udang. Selain itu, memetakan memetakan peran dan keterlibatan para pemangku kepentingan, mulai pemerintah, swasta, universitas, hingga masyarakat akuakultur. “Dari situ, kita menetapkan lokasi tambak yang menjadi pilot project. Kita monitor perkembangannya setelah satu atau dua siklus produksi pasca ada intervensi teknologi perbaikan tambak,” kata Audrie. Luas perikanan tambak udang Banyuwangi sendiri 1.384 hektare, dengan produksi mencapai 19.700 ton. Dari angka tersebut, 19.200 ton diekspor ke luar negeri. “Target kami, di akhir program ini ada perkembangan produksi dengan pendekatan ramah lingkungan. Para petambak bisa mengatasi penyakit udang dengan cara ramah lingkungan, dan lokasinya pun bisa menjadi destinasi wisata baru,” kata Audrie. Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik program tersebut. “Ini program bagus, bisa menjembatani bagaimana tambak bisa tumbuh tapi ekosistem terjaga, serta melibatkan banyak tenaga kerja. Kami yakin, program ini akan bisa meningkatkan produksi udang dari lahan yang sudah ada, tanpa harus menambah lahan. Sekaligus mereduksi polusi," kata Anas. Anas berharap dengan pengelolaan yang baik, tambak udang bisa menjadi alternatif wisata edukasi. "Seperti tambak-tambak di luar negeri yang bisa menjadi wisata edukasi," ujarnya. (*)