Kemenpar Selenggarakan 2 Bimtek Sekaligus di Banyuwangi

<span 1.6em;"="">BANYUWANGI – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Indonesia menyelenggarakan dua bimbingan teknis (bimtek) sekaligus di Banyuwangi. Waktunya pun bersamaan. Kedua bimtek tersebut yakni bimtek  Pengelolaan Wisata Tradisi dan Seni Budaya (TSB) yang dilaksanakan mulai Rabu (24/2) hingga Jumat (26/2) di Hotel Ketapang Indah. Sementara  Pelatihan Lifeguard diadakan di Hotel Berlian Abadi selama 2 hari, yakni Kamis (25/2) dan Jumat (26/2).

Banyuwangi dinyatakan layak menjadi lokus diselenggarakannya bimtek Pengelolaan Wisata Tradisi dan Seni Budaya, menurut Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Tradisi dan Seni Budaya Kemenpar, Anna Budiarti karena Banyuwangi memiliki potensi seni budaya yang luar biasa. “Kami menilai potensi seni budaya Banyuwangi itu luar biasa. Potensi itu akan semakin melejit jika dikemas dengan baik. Karena itu kami sengaja melibatkan kepala-kepala adat, sanggar-sanggar, para seniman, budayawan dan stakeholder terkait,” ungkap Anna.

Kegiatan ini menghadirkan nara sumber yang kompeten di bidangnya. Antara lain Muhammad Liga Suryadana dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Rode Ayu Wahyuningputri yang merupakan trainer dari Inspire Travel and Tourism Learning Center, serta dua orang nara sumber lokal seperti Aekanu dan Hasan Basri.

Salah seorang nara sumber, Rode Ayu Wahyuningputri mengatakan, forum ini bukan hanya soal menjaga seni budaya saja, tapi bagaimana seluruh pemangku kepentingan bisa mengembangkan, melakukan aktifitas dan mengelola seni budaya tersebut. “Kekayaan seni budaya Banyuwangi ini akan kita kelola bersama-sama bukan hanya berdasarkan pedoman dari Kemenpar, tapi juga disesuaikan dengan standar internasional,” kata Rode.

Jadi, lanjut Rode, kegiatan ini merupakan upaya dari Kemenpar dan  Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi untuk menggali potensi adat tradisi dan budaya di wilayah Banyuwangi. Sehingga nantinya dapat dilestarikan dan dikembangkan menjadi desa wisata yang memiliki nilai jual dan dikemas sedemikian rupa untuk menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke Banyuwangi.

Tak hanya berdiskusi, peserta yang terdiri atas seniman, budayawan, delegasi Dewan Kesenian Blambangan, tokoh adat, lurah/kepala desa, Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of the Indonesian Tours and Travels Agencies (ASITA), Badan Pusat Statistik (BPS), akademisi dan para pemandu wisata tersebut juga turun ke lapangan untuk melakukan observasi.

Ada beberapa  titik yang dituju, yakni Desa Adat Kemiren yang didalamnya juga mengeksplore Sanggar Seni Sayu Sarinah dan Makam Buyut Cili. Buyut Cili merupakan leluhur masyarakat Kemiren. Selain itu mereka juga berkunjung ke Sanggar Batik Pringgokusumo. Setelah observasi akan dilakukan diskusi kelompok utk membuat laporan hasil pengamatan yang kemudian akan  dipresentasikan.

Bimtek yang berlangsung selama 3 hari ini disambut baik oleh para peserta. Salah satunya Kisma Dona yang berprofesi sebagai pemandu wisata. “Pelatihan ini bagus sekali manfaatnya buat kita. Kita bisa belajar bermacam kriteria pengembangan pariwisata budaya,” ujar Kisma Dona.

Bahkan, imbuhnya,  peserta  memandang kegiatan ini dari berbagai sudut pandang. “Misalnya sebagai guide, kita akan memperkuat story telling kita tentang Banyuwangi. Sebagai host atau tuan rumah kita jadi tahu apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengelola pariwisata kita. Sebagai tour operator atau perusahaan, kita bisa memback up dan mensponsori promosi wisatanya. Dan peserta yang dari dinas terkait bisa memback up mitra usaha serta penelitian dan pengembangan (litbang) –nya,” runut Kisma Dona.

Sementara itu, bimtek Peningkatan Kapasitas Penyelamat Wisata Pantai  (lifeguard) yang berlangsung  di Hotel Berlian Abadi diikuti 25 peserta. Mereka merupakan pelaku wisata di pantai-pantai dan sungai yang ada di Banyuwangi. Diantaranya dari Bangsring Boat, Wisata Pantai Boom, Waduk Sidodadi, Bangsring Underwater, Kali Badeng, Kali Bunder, Mustika Pancer, Teluk Banyu Biru, dan Wisata Mangrove Bedul.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan di obyek wisata pantai khususnya lifeguard. “Melalui pelatihan ini mereka  akan mendapatkan informasi dan mempraktekkan langsung bagaimana memberikan penyelamatan dengan cepat dan tepat, sehingga wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata pantai dapat terjamin keselamatannya,” tutur Kepala Bidang Pengembangan Wisata Bahari Kemenpar, Danang Rahadian Sinayangsari.

Di samping mendapatkan materi kelas, peserta juga diajak praktek langsung di kolam renang hotel Berlian Abadi. Keesokan harinya mereka juga akan turun untuk melakukan praktek di Bangsring Underwater (Bunder) berupa penanganan korban tenggelam, menangani korban terkena sengatan ubur-ubur, dan jenis-jenis penyelamatan lainnya. Pelatihan ini dibimbing langsung oleh instruktur yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Kiki Murdiatmoko, Jurianto M. Nur, dan Arif Budiman dari lembaga independen Balawista. (Humas & Protokol)