Masyarakat Panik dalam Simulasi Ijen Meletus

LICIN – Senin pagi (31/10) sekitar pukul  08.30 masyarakat Licin dikejutkan oleh suara gemuruh yang sangat keras disertai semburan awan panas. Sontak  Lapangan desa Tamansari yang terletak di utara perkebunan Lijen  dipenuhi dengan warga yang  panik dan berlarian kesana kemari. Rupanya  Gunung Ijen meletus dan mengeluarkan lahar. Suhu udara  terus  meningkat  hingga mencapai  65 derajat celsius. Tak lama beberapa petugas gabungan dari TNI/Polri, PMI,  Lembaga Penanggulangan Bencana, TAGANA (Taruna Siaga Bencana), mahasiswa STIKES Banyuwangi dan dibantu oleh masyarakat sekitar langsung turun untuk membantu menyelamatkan korban yang terluka dan mengungsikan beberapa warga desa di tempat penampungan yang sudah disediakan. Sebanyak 15 orang meninggal, dan sekitar 3300 orang mengungsi akibat kehilangan tempat tinggalnya. Ditengah suara gemuruh terlihat beberapa mobil ambulans yang berseliweran mengangkut para korban yang terluka agar segera mendapatkan pertolongan.

Shelter pengungsian pun segera  dibangun dengan gerak cepat oleh tim relawan. Shelter tersebut  terdiri atas tenda penampungan, posko BPBD ( Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dapur Umum dan Rumah Sakit Lapangan. Pengungsi segera diangkut menuju shelter  pengungsian begitu tenda berdiri.

Kejadian diatas adalah suasana yang tampak dalam simulasi mitigasi bencana dalam rangka kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana masyarakat “Waspada Gunung Api Ijen 2011” yang digelar di desa Tamansari kecamatan Licin. Memang masyarakat saat ini  tengah dikondisikan untuk senantiasa siap menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ijen pernah meletus dengan begitu dahsyat pada tahun 1600-an. Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang terletak di Licin, diketahui bahwa didalam kubah Ijen terkandung 30 juta kubik air yang keasamannya setara air aki. Karena itu warga wajib waspada. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Badan Kesejahteraan Bangsa Politik Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpolinmas), Drs. Abdullah.

Ditambahkan olehnya bahwa sebelumnya Bakesbangpolinmas telah bekerjasama dengan pusat Geologi di Bandung dengan mengirimkan 25 orang untuk diasramakan dan dididik tentang bencana. Ke-25 orang tersebut berasal dari unsur TNI/Polri, Bakesbangpolinmas, dan relawan-relawan Banyuwangi. Merekalah yang menjadi cikal bakal terbentuknya tim relawan pemkab yang familiar dengan sebutan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Menyaksikan simulasi dari awal hingga akhir, termasuk melakukan tinjau lapang ke tenda-tenda yang dibangun, Bupati Abdullah Azwar Anas berharap agar simulasi ini bisa dilakukan oleh seluruh stake holder di Banyuwangi. “ Saya minta kegiatan semacam ini digerakkan  di sekolah-sekolah dan kecamatan-kecamatan, agar mereka sadar pentingnya kesiapan menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Khusus untuk sekolah, meski tidak masuk dalam kurikulum, saya ingin kegiatan ini bisa menjadi kegiatan ekstra kurikuler, “tandas bupati Anas. (Humas dan Protokol)