Harapan Pegiat Batik Banyuwangi Di Hari Batik Nasional

Banyuwangi - Di Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober, para pegiat batik di Banyuwangi mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai kain batik. Batik Banyuwangi dikenal dengan motif yang kuat karena nilai filosofi di baliknya. 

Salah satunya dilontarkan oleh Olivia Gunawan, seorang model pencinta kain batik. Sebagai generasi milenial, dirinya merasa bangga Banyuwangi memiliki warisan budaya batik yang khas. 

Model yang berhasil menjadi Miss Tourism and Culture Universe 2019 ini mengajak anak muda untuk mencintai batik dengan cara bangga mengenakannya. 

“Di mata saya, batik Banyuwangi memiliki banyak motif. Bisa dikenakan dengan elegan, mahal, dan model casual juga bisa,” harap Olivia.

Olivia lalu mengajak anak muda untuk tidak malu memakai busana batik, yang dahulu identik dengan pakaian kuno. Apalagi, sejak ada event Banyuwangi Batik Festival yang rutin dihelat Pemkab Banyuwangi sejak 2013, motif dan desain batik daerah terus berkembang. Desainer batik juga tumbuh. 

"Jadi saya berharap anak muda pun tetap bangga memakai batik. Sekarang desainnya sudah berkembang kreasinya," ujarnya. 

Pembatik Banyuwangi menyebut Hari Batik menjadi momen yang tepat untuk mengingatkan kembali masyarakat lebih mengenal dan mencintai batik. Firman Sauqi Ketua Asosiasi Pengrajin Batik Banyuwangi mengatakan lewat dukungan pemerintah dan sejumlah elemen, saat ini perkembangan batik di Banyuwangi sangat pesat. Menurut dia, pengrajin batik di Banyuwangi saat ini tidak hanya menciptakan motif batik berfilosofi, namun juga batik fashion modern.

“Alhamdulillah saat ini terdapat 32 kelompok pembatik yang tergabung dalam asosiasi kami, ditopang dengan dua SMK jurusan batik,” katanya.

Menurut Firman, industri membatik cukup menjajikan untuk digeluti. Sebab selain dapat melestarikan budaya, membatik dapat menjadi bisnis yang meningkatkan ekonomi masyarakat. Terlebih budaya dan wisata Banyuwangi telah cukup dikenal ditingkat nasional hingga mancanegara.

“Dulu banyak pembatik yang sekedar pekerja, namun saat ini telah mempunyai usaha batik sendiri. Ini juga hasil dari peran pemerintah daerah mefasilitasi kami seperti adanya Batik Festival dan event yang lain,” ungkapnya.

Bahkan, untuk tetap mewadai kreativitas dan produktivitas pembatik di masa pandemi, pihaknya sedang mempersiapkan Festival Batik secara virtual. Dia berharap dengan cara tersebut pihaknya bersama pembatik lain dapat bekerjasama dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat khsususnya para pembatik.

“Dengan merangkul semua aspek seperti desainer anak muda, kita membangun perekonomian masyarakat kedepan,” jelasnya. 

Sementara itu, salah satu budayawan dan pemerhati batik, Aekanu Haryono, menilai motif batik Banyuwangi mempunyai filosofi yang sangat luar biasa. Dia menyontohkan motif bunga manggar atau kelapa di batik gajah oling. Melambangkan manusia harus berguna seperti pohon kelapa yang seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan.

“Semua motif lama batik Banyuwangi filosofinya kuat. Seperti motif gajah oling yang berlawanan arah jarum jam. Itu melambangkan prosesi doa dan kesakralan. Tak heran banyak wisatawan asing yang tertarik dengan kain batik usai mendengar kisah di balik motif-motifnya,” ungkap Aekanu.

Banyuwangi sendiri memiliki 24 motif batik kuno. Antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Gedegan, Sekar Jagad Blambangan, Dilem. 

"Mari kita semua mulai mengenali nilai-nilai batik yang memiliki makna sangat tinggi. Batik adalah budaya bangsa," kata Aekanu. (*)