Dukung Sektor Pertanian, Banyuwangi Siapkan Rp 150 Miliar untuk Infrastruktur Sumber Daya Air

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi menetapkan pembangunan infrastruktur pertanian sebagai salah satu prioritas pada 2017. Fokus infrastruktur pertanian yang dibangun adalah fasilitas sumberdaya air seperti embung dan jalan usaha tani penghubung antardesa yang bisa memudahkan petani dalam mendistribusikan hasil panennya. Khusus untuk infrastruktur sumberdaya air, dana yang disiapkan pada 2017 mencapai Rp150 miliar. ”Pembangunan infrastruktur pertanian ini meneruskan program-program kami dalam empat tahun terakhir. Sektor pertanian adalah salah satu sektor terpenting dalam perekonomian masyarakat Banyuwangi. Jadi selain teknis pertaniannya kami perkuat, misalnya dengan inovasi budidaya maupun pasca-panen, kami juga bangun infrastrukturnya, terutama untuk sumberdaya air. Aliran air ke lahan harus dipastikan tidak macet dan dalam jumlah yang cukup,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat memimpin Rapat Koordinasi Bidang Infrastruktur di Banyuwangi, Jumat (6/1/2017). Di Banyuwangi, jaringan irigasi primer mencapai 3.718 kilometer, irigasi sekunder 2.204 kilometer, dan irigasi tersier 797 kilometer. Jaringan tersebut mengairi sekitar 66.000 hektar sawah. Selain itu, ada kawasan perkebunan sekitar 82.000 hektar yang juga membutuhkan sumberdaya air dalam skala tertentu. Anas melanjutkan, untuk memperluas layanan sumberdaya air bagi sektor pertanian di Banyuwangi, pihaknya bakal kembali menambah jumlah embung baru pada tahun ini. Pada tahun ini, dibangun 15 embung baru dengan kapasitas tiap embung 2000-5000 meter kubik. Jaringan irigasi tersier juga bakal dibenahi dan ditambah sebagai upaya percepatan daya hantar air dari hulu ke lahan-lahan pertanian. “Tahun ini APBD Banyuwangi mengalokasikan dana Rp 150 miliar untuk pembangunan infrastruktur sumberdaya air guna menopang kinerja sektor pertanian,” jelas Anas. Selain infrastruktur sumberdaya air, pembangunan infrastruktur pertanian juga difokuskan ke jalan usaha tani untuk menunjang aspek pasca-panen. “Aksesibilitas jalan antar desa dan kecamatan dibangun dan diperbaiki. Ini agar proses pemasaran hasil-hasil pertanian dari desa ke kota berjalan dengan lancar. Dengan aksesibilitas yang meningkat membuka peluang pasar yang lebih besar bagi petani,” ujar Anas. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU)Pengairan Guntur Priambodo mengatakan dengan pembangunan irigasi secara berkelanjutan, pihaknya menargetkan persentase ketersediaan air bagi petani bertambah dari saat ini 200 persen menjadi 230 persen dalam dua atau tiga tahun ke depan. ”Artinya, sebagian petani atau sekitar 30 persen bisa menambah jumlah masa tanamnya, dari yang dulu cuma dua kali bisa menjadi tiga kali dalam setahun,” papar Anas. Dia menambahkan, salah satu embung yang dibangun adalah embung berkapasitas sedang, yaitu embung Tasmuin di Kecamatan Songgon. Embung ini berkapasitas 500.000 meter kubij. Selain itu, empat embung besar berkapasitas hingga 2 juta m3 disiapkan di Banyuwangi wilayah selatan. “Jika ini terealisasi maka ketersediaan airnya hampir menyamai Waduk Bajulmati di Wongsorejo atau kawasan Banyuwangi utara yang mencapai 10 juta meter kubik,” pungkasnya. (Humas)