Di Prosesi Wisuda IAIDA, Bupati Anas Apresiasi IAIDA yang Didik Mahasiswanya dengan Skill Berbasis Komunitas

BANYUWANGI -  Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung, Banyuwangi kembali  mewisuda sarjana-sarjana fresh graduate  dari berbagai bidang akademik. Terdapat  241 orang yang diwisuda hari ini, Selasa (26/11/2019). Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas hadir langsung dalam acara yang digelar di halaman kampus IAIDA Blokagung tersebut.

Para wisudawan ini merupakan mahasiswa strata satu (S1) IAIDA yang dipimpin Rektor KH Ahmad Munib Syafaat. Mereka berasal dari tiga fakultas. Yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, serta Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Bupati Anas dalam kesempatan ini memberikan ucapan selamat kepada Pondok Pesantren Darussalam Blokagung dan para wisudawan. “Selamat kepada Ponpes Darussalam dan para wisudawan atas pencapaian ini. Terima kasih sudah bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mendidik generasi muda kita. Bagaimanapun Ponpes Darussalam telah menunjukkan darma baktinya dalam mempersiapkan pendidikan formal, termasuk di dalamnya ada sektor kreatif. Ini akan menjadi warna baru bagi ponpes,” kata Anas.

Anas juga menyebut pentingnya ponpes memiliki skala prioritas, sehingga lebih fokus dalam mendidik mahasiswanya. “Presiden Joko Widodo mengatakan kita harus punya skala prioritas di tengah keterbatasan. Saya setuju pesantren punya skala prioritas. Bahkan di Ponpes Darussalam ini akademi komunitas sudah disiapkan. Ini akan menjadi jawaban bagi anak-anak milenial ke depan. Sebab  job center harus dipenuhi.   Saya kira pesantren ini telah adaptif terhadap perubahan. Karena di satu sisi tahfidz  quran dibangun, namun di sisi lain skill berbasis komunitas juga dibangun,” ujarnya.

Akademi komunitas adalah bagian dari amanat Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU Dikti). Tujuannya untuk penguatan pendidikan vokasi.  Masing-masing mahasiswa yang selesai menempuh program pendidikan ini akan mendapat gelar setara dengan D1 atau D2. Sejak April 2019, Ponpes Darussalam juga secara resmi telah memiliki 3 akademi komunitas. Antara lain Kesehatan Kulit dan Rambut Program Diploma Satu, Administrasi Jaringan Komputer Program Diploma Dua, dan Produksi Tekstil Program Diploma Dua.

Anas menambahkan, trend ke depan, jumlah orang tua yang menitipkan anak-anaknya ke ponpes akan semakin tinggi. Karena orang tua takut anak-anaknya menjadi korban dari  pergaulan di luar pesantren yang begitu mengkhawatirkan. “Bersyukurlah anak-anak menjadi   sarjana yang juga lulusan pesantren. Begitu banyak yang lulus menjadi doktor dan hebat  di luar sana, tapi pergaulannya rusak. Karena itu sumbangsih pesantren pada rakyat Indonesia sangat besar. Kita bersyukur presiden telah mengesahkan UU pondok pesantren sehingga kedudukan ponpes lebih diakui,”tambah Anas.

Anas juga menyebutkan, berdasarkan hasil riset dari 2000 perusahaan terbesar di Amerika, proses rekrutmen di masa sekarang ini bukan lagi didasarkan atas hard skill, seperti kemampuan matematika dan bahasa, tapi ditentukan oleh  soft skill, salah satunya kemampuan bekerjasama. “Betapa banyak potential loss atau target tidak tercapai karena soft skill-nya rendah. Nah, anak-anak jangan minder jadi keluaran ponpes. Kehebatan pola didik di  ponpes mendorong softskill anak-anak ini tumbuh. Di pesantren apa-apa kalian kerjakan dengan kemampuan kalian sendiri, seperti membersihkan kamar mandi, mencuci baju, tadarus dan menghafalkan quran. Kalian ini punya mental soft skill yan g dibutuhkan,” tutur Anas menyemangati.

Pemkab Banyuwangi juga punya program yang baru saja digulirkan, yaitu pendampingan dari mahasiswa-mahasiswa semester akhir, khususnya di bidang kesehatan, terhadap para ibu hamil. “Saya ingin ajak mahasiswa IAIDA untuk turut menyukseskan program bagi ibu hamil. Kecerdasan anak di masa depan dibangun sejak dalam kandungan. Orang hidup bukan hanya perlu gizi fisik atau makanan dhohir, tapi juga butuh diajak berbicara dan sharing ilmu untuk saling menguatkan. Saya menghimbau agar pola KKN dirubah. Saya ajak satu mahasiswa mendampingi satu orang ibu hamil     (one student one client) sampai anaknya lahir. Maka yang akan lahir adalah anak-anak yang hebat. Kalau ini jalan maka  akan menjadi amal solih bagi ponpes, sekaligus ini jadi investasi SDM  bagi kita,” tandas Anas.

Tercatat, saat ini IAIDA memiliki 1.470 orang mahasiswa. Dan tahun 2019, IAIDA mewisuda 241 orang mahasiswanya. Sebagai usaha menunjang peningkatan mutu dan kualitas pembelajaran, kampus ini saat ini tengah mempersiapkan lahan seluas 4,1 hektar untuk pengembangan kampus. Bahkan pembangunan 16 ruang baru telah dimulai sebagai wujud realisasi pengembangan kampus IAIDA Blokagung, tahap pertama.

Wisuda S1 yang digelar kali ini adalah wisuda yang ke 15. Pelaksanaannya juga bertepatan dengan Dies Natalis ke 18 IAIDA, Blokagung. Selain dihadiri Bupati Banyuwangi, tampak pula Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi, Muhammad Yamin, pengasuh Ponpes Darussalam KH Hisyam Syafaat, Rektor IAIDA KH Ahmad Munib Syafaat, para kepala SKPD dan para orang tua wisudawan. (*)