Dapur Tradisional Suku Osing Juarai Banyuwangi Race Photo Competition

BANYUWANGI - Foto dapur tradisional suku Osing berhasil keluar sebagai juara pertama dalam Banyuwangi Race Photo Competition, Minggu (11/3). Juaranya adalah putra asli Banyuwangi, Harfi Yulian Bimantara (20). Dalam gambar yang berhasil diabadikan Harfi tersebut, terlihat seorang wanita meniup api tungku dengan sebuah semprong bambu. Yang membuat gambar ini menarik, sinar matahari masuk melalui celah-celah atap sehingga menghasilkan penyinaran yang dramatis. Harfi yang masih duduk di bangku kuliah semester 6 Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Banyuwangi ini mengaku, gambar itu didapatkannya tak jauh dari lokasi start yang berada di gapura selamat datang di Desa Kemiren. "Waktu itu tidak ada peserta lain di belakang saya. Saya beruntung mendapatkan obyek ini setelah blusukan masuk ke rumah-rumah warga. Dan foto ini sama sekali tidak saya setting. Ibu ini memang sedang menanak nasi di rumahnya," ujar Harfi. Harfi melihat kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang identik. " Ini identik alias khas Osing banget. Saya pun tidak memakai trik khusus. Hanya memanfaat kan cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah-celah," beber Harfi yang mengambil gambar tersebut pada pukul 08.00 pagi. Kemenangan Harfi mendapat apreasiasi khusus dari dewan juri. Salah seorang juri, Eko Sumartopo mengatakan sebenarnya dalam lomba foto jenis race ini, faktor keberuntungan memegang peran utama, yakni sebesar 80 persen. Sedangkan untuk menang dalam unsur identik, foto yang diambil harus mewakili unsur-unsur yang ada di Desa Kemiren. Pertimbangan penilaian berikutnya adalah keseimbangan foto. "Juara 1 ini, punya unsur pencahayaan yang tepat.Cahaya yang keluar dari rongga atap terlihat berjajar rapi, dan dapurnya identik dengan rumah Osing. Bagi kami ini menjual secara pariwisata,' beber Eko. Peserta lainnya, Suwardi yang asal Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara mengatakan spot-spot yang didapati di Kemiren masih sangat kental. " Biasanya saya ikut lomba foto yang khusus motret foto model aja. Nggak taunya, Kemiren begitu indah rupa budayanya untuk dieksplore. Dengan blusukan, saya jadi tahu ciri khas Desa Kemiren," ujar pria yang kerap disapa Chue Ardi ini. Ini adalah kali keempat bagi Chue Ardi berkunjung ke Banyuwangi. Namun ini pertama kalinya dia mengeksplore kekayaan budaya Desa Kemiren. Foto yang dijepret pria yang merupakan ketua Pecinta Senifoto Tarakan (PST) ini tentang seorang anak kecil yang diajari pengrajin bikin barong. Captionnya tentang bagaimana membuat keseimbangan tetap terjaga. Foto itu membawanya menduduki peringkat ketiga untuk kategori umum. "Pokoknya luar biasa deh bisa mengeksplore Desa Kemiren. Pas hunting banyak tantangan, banyak tempat baru, karakternya unik dan khas, masyarakatnya welcome dan cepat membaur," puji Chue. Chue juga memberikan kesan mendalamnya soal event ini. " Kesannya seru, excited, nggak nyangka bisa sekeren ini. Biasanya yang mengadakan race semacam.ini adalah produsen kamera. Tapi ini pemerintah yang bikin dengan dukungan komunitas dan para pihak. Overall okelah," pungkas Chue. (*)