Bupati Azwar Anas: Inovasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Kesuksesan Banyuwangi

Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan nota pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Akhir Tahun Anggaran 2018, dalam sidang Paripurna di Gedung DPRD Banyuwangi, Jumat (8/3/2019). Dalam laporan tersebut disampaikan sejumlah capaian kinerja Pemkab Banyuwangi selama tahun 2018.

Sepanjang tahun 2018, berbagai capaian  ditorehkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Baik capaian dibidang ekonomi, pariwisata,  pendidikan, kesehatan, pertanian hingga torehan prestasi yang diganjar penghargaan oleh berbagai pihak.

“Kunci kesuksesan pengambilan kebijakan yang dilakukan Banyuwangi adalah inovasi dan kolaborasi. Keduanya merupakan nafas bagi  pemerintah daerah untuk  mencapai berbagai target pembangunan,” kata Bupati Anas.

Anas mengatakan, inovasi merupakan cara Banyuwangi untuk menyiasati keterbatasan anggaran yang dimiliki daerah dalam melaksanakan pembangunan. Inovasi juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. “Saat ini ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap pelayanan publik, jika tidak berinovasi maka akan kewalahan dan tidak bisa memberikan pelayanan prima pada warga,” ujar Anas.   

Beragam inovasi pun di geber sepanjang 2018. Salah satunya inovasi di bidang pelayanan publik yakni Program Smart Kampung. Sebuah program pengembangan desa melalui pendekatan Teknologi informasi (TI) dibarengi dengan perbaikan layanan publik dan upaya peningkatan ekonomi warga. Saat ini sudah 173 desa dari 189 desa yang teraliri internet berbasi serat optik untuk menunjang pelaksanaan Smart Kampung.

“Di Banyuwangi Desa menjadi garda terdepan pelayanan pada warga. Dengan program ini dokumen perizinan tingkat kecamatan bisa dilakukan di desa, termasuk dokumen akses total layanan kesehatan bagi warga miskin. Program ini seiring penerapan e-village budgeting untuk meningkatkan pengelolaan keuangan desa dan e monitoring sistem untuk memantau perkembangan pembangunan desa,” ujarnya.

Di bidang pendidikan, berbagi program inovasi juga digulirkan, seperti program angkat anak muda putus sekolah (Garda ampuh), Beasiswa Kuliah Gratis hingga lulus perguruan tinggi yang telah menjangkau 800 pelajar, Siswa Asuh Sebaya, Tabungan Pelajar Rp. 1 juta per siswa dan bantuan uang transport dan uang saku.  

“Semua program tersebut telah mampu menekan angka putus sekolah jadi sangat rendah yakni hanya tersisa 0,3 persen angka putus sekolah di tingkat SD. Sedangkan SMP dan SMA 100 persen tidak lagi ada anak putus sekolah,” terang Anas.

Sementara itu, kolaborasi dilakukan oleh Banyuwangi dengan berbagai pihak sebagai cara mempercepat proses pembangunan dan mengakselerasi pengembangan daerah di era revolusi 4.0. Kolaborasi dilakukan dengan menggandeng kampu-kampus besar untuk ikut membantu perencanan dan evaluasi pembangunan daerah.

Kolaborasi juga dilakukan dengan berbagai inovator sosial seperti dengan GO-Jek dengan program antar obat warga miskin, program pemberian makanan rutin bagi lansia Rantang Kasih. Juga kolaborasi dengan pengembang teknologi pendidikan Ruang Guru untuk pembelajaran online gratis bagi pelajar di desa. Yang terbaru kolaborasi daerah dengan startup teknologi ritel Warung pintar guna meningkatkan kapasitas sektor ritel mikro alias warung-warung kecil milik rakyat.

“Meskipun jauh dari ibukota, kita ingin warga Banyuwangi menjadi bagian terdepan dalam menyambut revolusi 4.0. Pada akhirnya warga akan mampu bersaing dan berdaya guna di tengah tren online yang masuk di berbagai lini kehidupan,” ujar Anas.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Anas juga menjelaskan capaian berbagai bidang. Seperti Pertanian, produksi Gabah kering daerah pada 2018 sebanyak 817.512 ton atau setara 512.907 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi beras  hanya 152.267 ton, berarti ada surplus 360.640 ton. Untuk Jagung pada 2014 produksinya 142.915 ton, di 2018 meningkat jadi 218.409 ton 2018.

Urusan kesehatan perbaikan gizi buruk dan penanganan kemiskinan berjalan 100 persen. Di bidang Pekerjaan Umum, panjang jalan baik mencapai 97,69 persen dan urusan Lingkungan Hidup terkait penanganan sampah tercapai sebesar 97,85 persen.

Tidak ketingalan di bidang pariwisata, berdasar perhitungan kementrian pariwisata devisa yang diperoleh dari pariwisata Banyuwangi mencapai 546 M. Sektor ini telah menggerakkan banyak lini usaha rakyat seperti makanan dan minuman, konveksi, biro perjalanan, pemandu wisata hingga pertanian.

Kunjungan wisatawan pun terus meningkat, turis domestik dari 497 ribu  di 2010 menjadi 4,9 juta oarng pada 2017. Turis manca negara pada 2010 baru 5.202 orang menjadi 989.700 pada 2017. Ini turit mendorong peningkatan pendapatan perkapita daerah dari Rp. 20,8 juta/orang/tahun pada 2010 menjadi Rp. 41.5 juta /orang/tahun di 2017.

Pengembangan pariwisata ini, ditunjang dengan 10 kali penerbangan menuju Banyuwangi, enam kali dari Jakarta, 3 kali dari Surabaya, dan satu penerbangan internasional dari Kuala Lumpur. Jumlah penumpang melonjak 1.700 persen dr 7.836 orang pd 2010 menjadi 140.683 pd 2017, sdh mencapai 307.157 hingga okt 2018.

“Semua capaian tersebut berkontribusi pada penurunan kemiskinan dari 20,08 pada 2010 menyisakan 7,84 persen pada 2017 (rilis 2018). Sepanjang 2018 Banyuwangi juga meraih 14 penghargaan dari berbagai pihak,” cetusnya