Barong Ider Bumi, Upacara Untuk Keselamatan yang Menarik Wisatawan

GLAGAH – Upacara adat ritual barong Ider Bumi merupakan bagian agenda wisata yang dapat menarik wisatawan, untuk itu Desa kemiren telah diusulkan menjadi desa wisata di tingkat nasional. “ Sudah saya usulkan di Dirjen Pariwisata sehingga mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat,” ujar Bupati Abdullah Azwar Anas saat menghadiri acara tersebut Kamis (1/9). Acara Ider Bumi tersebut dalam kepercayaan masyarakat setempat merupakan upacara bersih desa di hari ke – 2 setelah lebaran. Dan ini merupakan acara tahunan yang rutin di gelar dengan swadaya masyarakat.

Bupati Azwar Anas juga mengatakan keguyuban masyarakat desa Kemiren dalam menyelenggarakan upacara Ider Bumi secara swadaya merupakan bentuk kemandirian masyarakat untuk menjaga budaya dan adat yang ada di lingkungannya. “ Ini bisa menjadi contoh daerah – daerah lain tanpa bantuan pemerintah acara semeriah ini bisa terselenggara denga baik, “ kata Bupati.

Acara barong Ider Bumi tahun ini di buka langsung langsung oleh Bupati Abdullah Azwar ditandai dengan pemukulan bedug kemudian diikuti oleh seluruh peserta pawai Ider Bumi, dan dilanjutkan dengan iring – iringan Bupati yang menunggangi Kuda kencak dan diikuti oleh barong beserta tetabuhan khasnya mengelilingi kampung. Meski cuaca cukup terik masyarakat desa Kemiren sangat antusias untuk menyaksikan arak – arakan Barong Ider Bumi tersebut. Mereka telah berjajar di sepanjang jalan yang akan dilewati sejak acara belum di mulai.

Iring – iringan Ider Bumi tersebut juga di ikuti oleh beberapa wisatwan asing, dengan menggunakan ikat kepala khas Banyuwangi (udeng) mereka sangat antusias mengikuti prosesi hingga akhir. Salah satu wiasatawan asal Republik Ceko, vladimire jhonson mengatakan meski ia baru pertama kali ke banyuwangi namun jika melihat acara semeriah ini ia akan terus datang ke banyuwangi, “ acara ini bagus, saya baru pertama kali ke banyuwangi rasanya ingin berlama – lama disini “ uajrnya. “ rencananya di sini hanya untuk transit ke bali, tapi disini lebih asik dan menyenangkan “ imbuhnya.

Acara barong Ider Bumi ini diakhiri dengan makan bersama di sepanjang jalan desa Kemiren dengan menu khas pecel pithik dan lalapan hasil bumi desa Kemiren. Tak ketinggalan Bupati Azwar Anas berserta rombongan turut menikmati hidangan khas tersebut bersama seluruh masyarakat desa Kemiren yang tumpah ruah di tengah jalan desa.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, upacara ini dilakukan pertama kali pada tahun 1940. Pada saat itu terjadi pageblug (wabah penyakit) dan bencana di Desa Kemiren. Banyak orang yang pagi hari sakit sorenya meninggal, atau malam sakit paginya sudah meninggal. Tidak hanya wabah kematian yang menyerang warga, ratusan hektare sawah juga diserang hama sehingga menyebabkan gagal panen. 

Warga pun mengadakan tirakatan dan berdoa memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya salah seorang tetua adat Desa Kemiren yang bernama Mbah Buyut Cili mendapatkan wangsit melalui mimpinya. Dalam mimpinya disebutkan bahwa untuk mengusir penyakit dan hama yang melanda desa, penduduk harus mengadakan selamatan kampung dengan menggelar ritual arak-arakan barong untuk menolak datangnya bencana. 

Dalam ritual yang kemudian dinamai Barong Ider Bumi tersebut, barong wajib diarak keliling desa dengan diiringi pembacaan macapat (tembang Jawa) yang berisi doa dan pemujaan terhadap Tuhan dan nenek moyang untuk menolak bahaya yang mengancam keselamatan penduduk desa. Barong yang berbentuk topeng merupakan penggambaran hewan yang menakutkan dan memiliki kemampuan untuk mengusir pengaruh jahat yang melanda Desa Kemiren. Saat ini, selain sebagai ritual penolak bala, Barong Ider Bumi juga dijadikan sebagai upacara kesuburan. Dengan melakukan ritual ini, mereka berharap mendapatkan keselamatan, penyembuhan, kesuburan, dan pembersihan diri dari semua kesalahan yang pernah mereka lakukan pada tahun sebelumnya.

Sesuai dengan namanya, yakni Barong Ider Bumi, inti dari ritual ini adalah mengarak barong memutari desa. Sebelum arak-arakan dimulai, biasanya akan diawali dengan pertunjukan tari-tarian di halaman balai desa. Setelah itu, diiringi dengan permainan angklung para sesepuh desa, rombongan arak-arakan pun mulai berjalan mengitari kampung. Baris depan arak-arakan tentu saja orang yang menggunakan topeng barong. Lalu disusul dengan dua orang nenek membawa kendi dan lima orang nenek yang menggendong guci yang disebut lukiran. Tiap-tiap lukiran berisikan uang logam pecahan Rp100 berjumlah Rp99.900. Kemudian ada rombongan lelaki dewasa yang menghambur-hamburkan atau yang biasa disebut sembur uthik – uthik beras berwarna kuning, bunga sembilan warna, dan uang logam yang diambil dari lukiran. Anak-anak pun berebutan memungut koin.

Salah satu tokoh adat setempat mbah Serat mengatakan upacara ini sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat desa Kemiren di hari raya idul fitri ini.“ Tujuan acara ini untuk syukuran di hari yang suci ini semoga kedepan desa Kemiren dan seluruh masyarakat Banyuwangi aman dan tentram juga di berikan hasil panen yang melimpah, “ ujar mbah Serat. (Humas)