Banyuwangi Gelar Rakor Penguatan Penanggulangan HIV/AIDS

BANYUWANGI – Untuk menguatkan komitmen dalam penanggulangan HIV/AIDS di Banyuwangi, pemerintah mengumpulkan camat, lurah dan kepala desa se kabupaten untuk rapat koordinasi (Rakor) cara menanggulangi HIV/AIDS.

Rakor ini digelar Kamis (9/8) di Hotel Ketapang Indah dan dipimpin langsung oleh Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Banyuwangi Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko.

Dalam kesempatan ini, Wabup Yusuf  menyatakan dalam penanggulangan HIV AIDS tidak bisa hanya dilakukan oleh Komisi Penanggulan AIDS dan Dinas Kesehatan saja, namun perlu melibatkan semua pihak. Mulai dari pemerintah kabupaten, camat, lurah hingga kepala desa.

“Harus ada komitment bersama untuk melakukan tindakan yang nyata dari semua pihak, karena HIV/AIDS sudah menjadi masalah yang kompleks. Tidak hanya masalah pengobatannya, tapi harus ada kepedulian dari lingkungan sekitar untuk peduli agar masyarakat sekitar tidak terkena virus HIV/AIDS ini,” kata Wabup saat membuka Rakor ini.

Dari komponen yang terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS ini, yang paling berperan adalah pemerintahn desa. Karena desa ini bisa berkoordinasi ke semua lini baik di tingkat atas, seperti kecamatan dan dinas, desa juga bisa berkoordinasi dengan perangkat RT/RW untuk mengidentifikasi masyarakat yang terkena HIV/AIDS.

“Masing-masing instansi ini bisa saling berkoordinasi. Dengan begitu saya pikir akan lebih efektif dan cepat dalam menanggulanginya,” kata Wabup.

Selain koordinasi, imbuh Wabup, desa juga bisa membuat program penanggulangan HIV/AIDS,  misalnya dengan membuka pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS hingga tindakan terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Dengan begitu masyarakat akan tahu tentang HIV/AIDS dan lebih peduli terhadap kasus ini,” ujarnya.

Wabup pun juga mengajak semua tidak hanya peduli terhadap HIV/AIDS namun juga peduli terdahap ODHA dengan tidak mengucilkan ODHA. Karena, menurut Wabup, ODHA sangat membutuhkan perhatian dari orang-orang disekitarnya, untuk menjaga stabilitas kondisi kesehatannya baik jasmani dan rohani.

“Penularan HIV/AIDS ini kan tidak serta merta tertular. Kecuali lewat darah dan cairan tubuh,” ujarnya.

Di Banyuwangi sendiri, jumlah penderita HIV/AIDS per Juli 2018 ada 3.603 penderita yang sebagian besar didominasi ibu rumah tangga. Dari jumlah tersebut ODHA yang meninggal dunia ada 437 jiwa. Sedangkan yang AIDS ada 1.700 jiwa, sisanya masih HIV.

“Target kita bisa menurunkan hingga meniadakan infeksi (tidak ada yang ditularkan), dari HIV/AIDS serta Three zero. Yakni, tidak ditemukan ODHA baru, tidak ada infeksi dan menekan angka kematian ODHA,” pungkas Wabup. (*)