Anas Boyong Kades Tiru Pengelolaan Sampah Karya Desa di Muncar dan NGO Dunia

BANYUWANGI - Pemkab Banyuwangi bakal memfokuskan penanganan sampah mulai dari lini desa, dengan contoh yang dilakukan oleh Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Desa tersebut sukses melakukan penanganan sampah lewat BumDes.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pun mengajak puluhan kepala desa dan lurah dari enam kecamatan untuk melihat langsung pengelolaan sampah di Desa Tembokrejo. Di desa itu, 8.900 rumah tangga yang dulunya suka membuang sampah di laut, kini justru mengolahnya di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).

Para kepala desa dan lurah yang diajak Bupati Anas pun melihat langsung bagaimana proses pengolahan sampah di TPST Tembokrejo mulai pemilahan, pengemasan hingga pemanfaatan sampah yang bernilai ekonomis.

Anas mengatakan dirinya sengaja mengajak mereka agar bisa mencontoh manajemen pengelolaan sampah di Desa Tembokrejo, Muncar, yang telah sukses. Tidak hanya menciptakan kebersihan wilayah tapi juga mampu mengubah perilaku warga ikut peduli pada masalah sampah.

“Dulu di sini paling ruwet masalah sampah, masyarakatnya masih banyak yang membuang sampah ke sungai bahkan laut. Namun, kerja keras dari aparat desa bersama Systemiq, kini perilaku warga mulai berubah drastis. Kesadaran peduli sampah tumbuh pesat,” kata Bupati Anas.

Perubahan tersebut tidak lepas dari peran aktif mantan kepala desa Tembokrejo, Sumarto bersama lembaga Systemiq. Mereka menggeber program STOP (Stopping The Tap On Ocean Plastic). Selain mengajak warga menghentikan kebiasaan buruk membuang sampah di laut, mereka mendampingi warga mengelola persampahan secara profesional. Program ini telah berjalan sejak bulan April 2018 lalu. Program itu didukung organisasi non-pemerintah (non-governmental organization/NGO) internasional Systemiq yang didanai pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria. 

“Awalnya kami banyak diremehkan, namun camat, saya dan Systemiq terus kerja. Sebagai kades saya tak kurang akal, setiap warga yang mengurus administrasi saya wajibkan untuk membayar iuran sampah. Kalau tidak mau, ya saya tidak keluarkan. Pelan-pelan dengan aktif sosialisasi, kini 8.900 warga Desa Tembokrejo telah aktif membayar iuran sampah. Daerah kami pun terlihat bersih,” cerita Sumarto.

“Para kades segera mencontoh manajemen yang telah dilakukan Desa Tembokrejo dan Systemiq. Program penanganan sampah harus menjadi salah satu prioritas desa yang dianggarkan lewat APBdes,” sahut Anas.

“Kami ingin Banyuwangi tidak hanya bersih di kotanya saja, tapi juga didesanya. Untuk itu saya minta para kades untuk memberi perhatian serius,” imbuh Anas.

Chief Delivery Officer STOP Project Systemiq, Andre Kuncoroyekti menjelaskan, Systemiq melibatkan Bumdes sebagai pengelola sampah. Mereka dilatih mengoptimalkan pengangkutan, pengumpulan, dan pengolahan sampah.

"Sekarang 100 persen warga sudah dilayani Bumdes. Cakupannya sudah mencapai seluruh rumah tangga di Desa Tembokrejo yang berjumlah 8.900 rumah tangga, dari awal yang sebelum kami masuk hanya 400 rumah," jelas Andre.

“Bumdes bahkan berhasil menjual sampah yang telah diolah ke Surabaya dan Pasuruan dengan pendapatan Rp25 juta per bulan,” kata Andre.   

Di TPST Tembokrejo, sampah dari rumah warga dipilah dan dikelola. Sampah organik dimanfaatkan untuk kompos dan budidaya larva lalat black soldier fly yang memiliki kemampuan mengurai sampah.

Adapun yang nonorganik, dipilah untuk dijual. Sejak April 2018 hingga Februari 2019, jumlah sampah nonorganik yang dijual mencapai 10,4 ton.

“Setelah berjalan setahun, ada perubahan fisik sungai di dekat Pantai Satelit. Tumpukan sampah tidak terlalu banyak,” pungkas Andre. (*)