Ada Kongres Masyarakat Adat Banyuwangi Di DWU

KEMIREN – Untuk menyelaraskan komunikasi dan kerjasama antar komunitas adat di Banyuwangi, dan antara komunitas adat dengan pemerintah daerah, pemkab Banyuwangi menyelenggarakan kongres masyarakat adat Banyuwangi, Selasa (13/12) di Desa Wisata Using (DWU). Kongres ini diharapkan juga berdampak baik bagi persatuan masyarakat Banyuwangi yang heterogen dan meningkatnya industri pariwisata di Banyuwangi. Bupati Abdullah Azwar Anas dalam sambutan pembukanya menuturkan, “Ada cara pandang yang perlu dijembatani antara pemerintah dengan masyarakat adat untuk merancang dan membangun pariwisata Banyuwangi kedepan. Bagaimana antara budaya yang adiluhung dan tradisi yang terus dipertahankan, akhirnya dikawinkan dengan modernitas,” tutur bupati sambil mencontohkan lahirnya Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang banyak mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat dan budayawan. Bupati menggambarkan BEC sebagai perpaduan atau kolaborasi antara etnik dan modernitas, dimana modernitas itu hadir, tapi kebudayaan asli tetap dijaga. Kongres yang bertema “Peningkatan Peran Dan Kemandirian Masyarakat Adat Dalam Membentuk Karakter Bangsa, Memperkokoh NKRI dan Pengembangan Pariwisata Banyuwangi” ini juga menghadirkan Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdul Nababan dan pembuat kamus bahasa Using, Prof Ayu Sutarto . Abdul Nababan menyambut baik diadakannya kongres ini. Abdul Nababan mengatakan, “Pada masa orde baru, mengobrolkan soal adat bagaikan mengobrolkan sesuatu yang primitif, bahkan dicurigai hendak memerdekakan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya. “Namun sekarang, kegiatan semacam kongres adat ini merupakan tonggak sejarah Banyuwangi yang mampu mempersatukan jurang antara masyarakat adat dengan pemerintahnya. Sebagaimana yang diupayakan oleh Menteri Pariwisata dan ekonomi Kreatif Indonesia, Marie Elka, saat ini tengah dikembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, dimana isu-isu kearifan lokal terus diangkat demi mengawal berhasilnya pembangunan,” paparnya. Kongres ini akan berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 13-14 Desember 2011, dengan jumlah peserta sebanyak 150 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan antara lain pemangku adat masing-masing wilayah di Banyuwangi, LSM, budayawan dan media massa.(Humas & Protokol)