11 Anak Asli Banyuwangi Terima Beasiswa Sekolah ke Cina

BANYUWANGI – Banyuwangi memperoleh kehormatan, pasalnya 11 anak muda asli Banyuwangi terpilih untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi melalui program beasiswa  yang diberikan Pemerintah China (Chinese Government Scholarship 2019). Ke 11 anak muda tersebut merupakan lulusan beberapa SMA Negeri di Banyuwangi.

 

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno secara resmi melepas keberangkatan mereka, Rabu (4/12/2019). Anak-anak muda ini didampingi pimpinan Yayasan Batuta Banyuwangi, Angga Yudhistira, tempat dimana anak-anak tersebut belajar bahasa mandarin.

 

Mewakili Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Suratno memberikan ucapan selamat dan menyampaikan kebanggaan yang luar biasa atas capaian yang diraih mereka. “Selamat. Saya bangga dengan terpilihnya kalian dalam program beasiswa CGS ini. Tidak gampang  memiliki motivasi untuk bisa menempuh pendidikan di luar wilayah kita sendiri. Tentu dibutuhkan visi ke depan yang berkaitan dengan masa depan,” kata Suratno.

 

Meski mendapatkan beasiswa ke luar negeri, Suratno berpesan agar anak-anak tetap menunjukkan pribadinya sebagai orang Indonesia, khususnya warga Banyuwangi yang tetap memegang nilai-nilai keluhuran bangsa. “Saya titip kepada kalian, Think Globally, Action Locally. Artinya, di tengah belajar mengembangkan kompetensi, tetaplah ingat darimana kalian berasal. Bawa nama baik daerah dan tetaplah berkultur Banyuwangi,” ujarnya.

 

Suratno juga minta agar para peraih beasiswa ini menerapkan 6C, di antaranya pertama, critical thinkingyakni bisa berpikir kritis, menentukan mana yang baik dan tepat dan harus dieksekusi. Caranya, dengan banyak berliterasi atau banyak membaca. Kedua, communication. “Sebelas orang ini komunikasinya harus utuh, jangan lepas dari kawannya, dan harus saling mengingatkan,” pesan Suratno.

 

Selain itu juga collaboration, creativity, competing logic dan cohession atau bekerja dengan hati serta tetap rendah hati. “Kami bangga ada anak-anak Banyuwangi yang punya kesempatan kuliah langsung di China. Bentuklah diri kalian secara bertahap. Pertama sebagai employer (pekerja), kemudian self employee (bekerja untuk dirinya sendiri), lalu businessman, hingga meningkat menjadi investor,” tandas Suratno.

 

Sebelumnya, para peraih beasiswa  tersebut belajar bahasa mandarin dengan mengikuti kursus di Yayasan BATUTA. Batuta Banyuwangi adalah sebuah yayasan pendidikan yang bergerak di bidang konsultasi pendidikan dan rumah belajar bahasa mandarin. Yayasan ini terbentuk di awal 2019. Salah satu program yayasan ini adalah pendampingan belajar bahasa mandarin dan program beasiswa belajar ke luar negeri.

Sementara itu, pimpinan Yayasan Batuta Banyuwangi, Angga Yudhistira menerangkan, Pemerintah China memang membuka pintu seluas-luasnya bagi anak-anak muda yang ingin belajar di China. “Pemerintah China ingin memberi sumbangsih lebih bagi anak-anak muda. Pengumuman tentang program ini selain diperoleh dari kedutaan besar China, juga bisa melalui universitasnya masing-masing. Mereka yang lolos seleksi  ini adalah lulusan terbaik dari sekolahnya,” beber Angga.

Rata-rata, terang Angga,  para calon mahasiswa ini belajar di Batuta selama 3 – 4  bulan untuk memperlancar kemampuan berbahasa mandarinnya. Salah satu penerima beasiswa,

Adellya Putri Gunawan mengaku tidak sabar ingin segera sampai di China untuk memulai pendidikan di sana. Calon mahasiswa jurusan farmasi di Guangxi International Business Vocational College ini bakalan menempuh pendidikan selama 6 tahun. Yakni satu tahun belajar bahasa mandarin, dan sisanya yang 5 tahun belajar farmasi.

 

“Saya excited sekali bisa terpilih sebagai penerima beasiswa ini bersama 10 rekan lainnya. Karena sejak dulu saya memang memimpikan bisa belajar tentang pengobatan di China. Seperti kita tahu China dikenal sebagai negara yang jago dalam pengobatan herbalnya,” terang Adellya.

 

Adellya mengawali kecintaannya belajar bahasa mandarin dengan belajar melalui youtube dan kursus di Batuta Banyuwangi. Dia dan kawan-kawannya belajar setiap sepulang sekolah, mulai hari Senin – Jumat. “Awalnya kami tidak saling kenal, hingga akhirnya belajar bahasa mandarin bareng di Batuta. Dan Alhamdulillah beberapa dari kami lolos seleksi untuk kuliah di China melalui beasiswa yang disampaikan ke sekolah kami. Tentu kami sangat senang sekali mendapatkan berkah ini,” katanya.

 

Ke-11 siswa-siswi penerima beasiswa CGV 2019 ini antara lain Diah Fitriyantika Buana dari SMAN 1 Glagah. Diah diterima di Guangxi International Business Vocational College di Fakultas Public Health. Di universitas yang sama dengan Diah, ada Virosya Amala (SMAN 1 Glagah) di Fakultas International Trade Business (China E-Commerce). Iqshal Sulton Ardhana (SMAN 1 Banyuwangi), Fakultas Environmental Engineering. Adellya Putri Gunawan (SMAN 1 Rogojampi) di Fakultas Pharmacy.

 

Di universitas yang berbeda, ada Nehrin Fahmi Suviana (SMAN 1 Banyuwangi) di Nanning College for Vocational Technology di Fakultas International Relations Program, dan Faisal Auliyandi (SMAN 1 Banyuwangi) di Fakultas Information and Technology.

 

Ada pula Diva Shitarani (SMAN1 Glagah) di Weifang University for Science of Technology di Fakultas International Trade Business. Diikuti rekan-rekan lainnya Salman Faris (SMAN 1 Banyuwangi) yang diterima di Fakultas International Business Management. Nossa Melenega (SMAN 1 Banyuwangi) di Fakultas International Trade Business. Surotul Hadiyani (SMAN 1 Glagah) di  Fakultas Public Health. Serta Sefi Amelia (SMAN 1 Banyuwangi) di  Fakultas Fashion Performance and Image Design. (*)