Revitalisasi-pertanian-mewujudkan-banyuwangi-sebagai-lumbung-pangan

Banyuwangi merupakan salah satu lumbung pangan nasional di Jawa Timur, yang memiliki peran strategis dalam memberikan kontribusi produksi pangan nasional. Sektor pertanian di Banyuwangi tidak hanya berperan terhadap ketahanan pangan tetapi juga mempunyai andil yang sangat besar terhadap sumber pendapatan, kesempatan kerja, serta perekonomian regional maupun nasional.

Sebagai lumbung pangan, produksi beras Banyuwangi tahun 2011 mencapai  490,93 ribu ton dan dikonsumsi masyarakat sebanyak  163,15 ribu ton atau 33,2 persen sehingga surplus beras sebesar  327,7 ribu ton. Hingga awal September 2012, tercatat produksi beras Banyuwangi mencapai 373,18 ribu ton dan dikonsumsi masyarakat sebanyak 108,7 ribu ton sehingga surplus beras sebesar 269,4 ribu ton.
Produktifitas padi, jagung, dan kedelai  Banyuwangi berada diatas rata-rata nasional. Tahun 2011, produktifitas padi nasional hanya 4,9 ton per hektar, produktifitas padi Jawa Timur sebesar 5,4 ton per hektar, sedangkan di Banyuwangi mencapai 6,5 ton per hektar. Tahun 2012  produktifitas padi nasional meningkat menjadi 5,1 ton per hektar di bawah Banyuwangi yang mencapai 6,3 ton per hektar. Produktifitas jagung tahun 2011 sebesar 6,4 ton per hektar melampaui rata-rata produktifitas nasional yang hanya 4,5 ton per hektar. Pada tahun 2012  produktifitas jagung nasional meningkat menjadi 4,7 ton per hektar tetapi juga masih di bawah Banyuwangi yang mencapai 6,4 ton per hektar. Sedangkan produktifitas kedelai Banyuwangi tahun 2011 sebesar 1,8 ton per hektar melampaui rata-rata produktifitas nasional yang hanya 1,36 ton per hektar. Pada tahun 2012  produktifitas kedelai nasional meningkat menjadi 1,37 ton per hektar tetapi juga masih jauh di bawah Banyuwangi yang mencapai 2,1 ton per hektar.
Produksi padi  di Banyuwangi pada tahun 2011 sebesar 761,3 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) menduduki rangking 2 Jawa Timur setelah Jember, produksi jagung mencapai 189,4 ribu ton, dan produksi kedelai 66,1 ribu ton. Hingga September 2012, produksi padi tercatat mencapai 567 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), produksi jagung mencapai 112,1 ribu ton, dan produksi kedelai 26,4 ribu ton.


Capaian tersebut ditunjang luas wilayah pertanian yang sangat memadai di posisi yang strategis. Kabupaten Banyuwangi berada di ujung timur Pulau Jawa tepatnya pada koordinat diantara 7o43’-8o46’ Lintang Selatan dan 113o53’-114o38’ Bujur Timur. Luas wilayah Banyuwangi 5.782,50 km² sebagian besar wilayah masih merupakan daerah kawasan hutan,  yang mencapai 183,396,3 hektar atau 31,7 persen, daerah persawahan 66.152 hektar atau 11,4 persen, perkebunan 82.143,6 hektar atau 14,2 persen, permukiman dengan luas sekitar 127.454,2 hektar atau 22,04 persen, sisanya dipergunakan untuk jalan, ladang dan lain-lainnya. Dari luas baku sawah 66,1 ribu hektar, terdapat 63,5 ribu hektar dengan irigasi teknis, 2,2 ribu hektar dengan irigasi setengah teknis, dan hanya 391 hektar dengan sistem irigasi sederhana.
Produk domestik regional bruto atas dasar harga konstan (PDRB ADHK) sektor pertanian meningkat dari tahun ke tahun. Pada kurun waktu 2005-2009, PDRB ADHK pertanian hanya kisaran 4 trilyun rupiah, namun pada tahun 2010-2012 berada diatas 5 trilyun rupiah. Sektor ini memberikan kontribusi rata-rata 46,5 persen. Namun bila ditilik lebih jauh, kontribusi sektor ini semakin menurun, pada rentang tahun 2007-2008 pada posisi diatas 47 persen, menurun tahun 2010 sebesar 46,2 persen dan menjadi 45,9 persen di tahun 2011, dan diprediksi pada tahun-tahun mendatang, kontribusi sektor ini akan semakin menurun.


Sebagai implikasi berkembangnya sektor jasa, perdagangan, konstruksi, dan beberapa sektor non pertanian lainnya, telah terjadi konversi lahan pertanian sehingga luas garapan usaha tani semakin berkurang dan kapasitas produksi semakin menurun. Ini merupakan problem yang harus dihadapi dihadapi bersama. Dukungan semua pihak diperlukan untuk menekan laju konversi lahan pertanian antara lain melalui perencanaan dan pengendalian tata ruang, rehabilitasi dan ekstensifikasi lahan; meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha pertanian serta pengendalian pertumbuhan penduduk.
Menurunnya kapasitas produksi juga disebabkan semakin menurunnya kesuburan lahan. Saat ini telah terjadi perubahan struktur tanah yang semakin masif akibat penerapan pupuk kimia dalam jangka waktu yang lama. Di samping kecenderungan petani yang masih menggunakan salah satu pupuk tunggal secara berlebihan terutama pupuk nitrogen (N), sementara penggunaan jenis pupuk lainnya (P, K dan unsur mikro) masih sangat kurang. Untuk itu penggunaan pupuk kimiawi dan organik secara berimbang harus dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah.
Sementara itu, sebagian lahan di Banyuwangi merupakan lahan sub optimal seperti lahan kering yang produktivitasnya relatif rendah, karena kendala kekurangan air, tingginya kemasaman/salinitas, tanah yang kurang subur. Beberapa lokasi lahan di wilayah Kecamatan Wongsorejo dan  Kalipuro termasuk dalam kategori lahan ini. Namun apabila keberadaan lahan sub optimal tersebut dapat direkayasa dengan penerapan inovasi teknologi budidaya dan dukungan infrastruktur jalan dan irigasi, maka lahan tersebut dapat dirubah menjadi lahan-lahan produktif.


Inilah sebagian dari skenario dalam rangka revitalisasi pertanian untuk meningkatkan produksi, produktifitas, dan menguatkan sektor pertanian sebagai kontributor utama perekonomian daerah. Disamping upaya tersebut, berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka revitalisasi pertanian. Secara khusus pada tahun 2011, produksi komoditi pangan menurun, karena pengaruh perubahan iklim secara ekstrem dan serangan hama wereng batang coklat (WBC) yang meningkat tajam.
Untuk itu telah diantisipasi pada tahun 2012, berbagai upaya dilakukan untuk pengamanan produksi. Bantuan insektida terus diberikan kepada kelompok tani, tahun 2011 senilai  849,2 juta rupiah dan meningkat pada tahun 2012 sebesar 1,804 milyar rupiah. Bantuan ini ditunjang pula pengadaan sarana pengendalian hama dan stok pestisida senilai 308,7 juta rupiah dari dana APBN.
Pada Tahun 2011 luas serangan wereng batang coklat seluas 1.511 hektar, namun dengan upaya dan dukungan berbagai pihak, pada tahun 2012 (sampai dengan bulan September) telah menurun; luas serangan 13,75 hektar dari luas tanaman 81.996 hektar atau mengalami penurunan sebesar 10,89 persen. Serangan hama lainnya; bakteri Xanthomonas pada tahun 2011 luas serangan 1.659 hektar, pada 2012 turun menjadi 926 hektar, hama Tungro pada tahun 2011 seluas 206 hektar pada tahun 2012 turun menjadi 1 hektar, penggerek batang pada tahun 2011 luas serangan 287 hektar pada tahun 2012 turun menjadi 227 hektar, hanya hama tikus yang mengalami peningkatan serangan, kalau pada tahun 2011 luas serangan 62 hektar, maka sampai bulan September 2012, luas serangannya meningkat menjadi 80 hektar.


Untuk mendukung peningkatan produksi tanaman pangan pada tahun 2012, telah dilaksanakan kegiatan optimasi lahan seluas 700 hektar dengan bantuan dari dana APBN sebesar 1,56 milyar rupiah. Dengan dukungan dana APBN tahun 2012 sebesar 17,8 milyar dilaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) Padi non hibrida seluas 7.000 hektar, SLPTT padi hibrida seluas 5.000 hektar, SLPTT jagung seluas 1350 hektar dan SLPTT Kedelai seluas 21.000 hektar.
Produksi yang baik harus pula didukung benih yang bermutu dari varietas Unggul. Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul difasilitasi melalui pembinaan produsen benih padi seluas 50 hektar di Kelompok Tani Sumber Kedawung Desa Pondok Nongko Kecamatan Kabat dan produsen benih kedelai seluas 25 hektar di Kelompok Tani Karya Makmur Desa Sumberasri Kecamatan Purwoharjo. Pembinaan penangkar benih dapat menghasilkan benih secara enam tepat, yaitu tepat waktu, mutu, varietas, jumlah, lokasi dan harga, sehingga ketersediaan benih bermutu diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi pangan.
Penyediaan air irigasi/pengairan sangat penting untuk peningkatan produksi tanaman pangan, yang dilakukan melalui perbaikan saluran-saluran yang rusak/bocor maupun melalui sistem hemat air seperti pengairan bertahap serta meningkatkan kerjasama dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Penyediaan air irigasi/pengairan melalui pembangunan rehabilitasi Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) atau Jaringan Irigasi Tingkat Desa. Pada tahun 2011 melalui dana APBD Kabupaten telah diselesaikan pembangunan rehabilitasi JITUT/JIDES sebanyak 48 unit, sedangkan pada Tahun 2012 sedang dibangun rehabilitasi JITUT/JIDES sebanyak 13 unit dan melalui dukungan dana APBN sebesar 3 milyar rupiah telah diselesaikan pembangunan rehabilitasi JITUT/JIDES sebanyak 58 unit yang tersebar di 24 Kecamatan dan telah diselesaikan pembangunan dam parit/embung sebanyak 3 unit di Kec. Glenmore, Kec. Genteng dan Kec. Muncar.
Pengamanan produksi dari dampak kekeringan dilakukan melalui efesiensi penggunaan air, pembuatan embung atau dam parit dan bantuan pompa air. Budidaya tanam padi model SRI (Sistem Rice of Intensification) seluas 500 ha mendapat dukungan dari APBN sebesar 1,075 milyar rupiah.


Untuk dapat mengembangkan sistem dan usaha agribisnis tanaman pangan diperlukan penguatan kelembagaan baik kelembagaan petani maupun kelembagaan penyuluh. Pada tahun 2011 telah diselesaikan pembangunan 1 unit Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di Kecamatan Singojuruh, sedangkan pada tahun 2012 sedang diselesaikan pembangunan 2 unit BPP di Kecamatan Songgon dan Kecamatan Sempu. Melalui BPP diharapkan meningkatkan coverage pembinaan jumlah kelompok tani, memberikan informasi teknologi, permodalan dan pasar yang diperlukan bagi pengembangan usaha tani dan usaha pertanian. Jumlah Kelompok Tani di Banyuwangi sebanyak 1.200 kelompok, pada tahun 2012 cakupan kelompok tani yang dibina sebanyak 297 kelompok.
Penyediaan alat mesin pertanian dan pengembangan usaha pelayanan jasa alsintan pra panen dan pasca panen dilakukan untuk mendorong percepatan pengolahan lahan, efisiensi usahatani dan peningkatan kualitas produk pertanian tanaman pangan. Melalui APBD Kabupaten pada tahun 2011  bantuan traktor sebanyak 68 unit telah disalurkan kepada kelompok tani, sedangkan pada tahun 2012 bantuan traktor sebanyak 14 unit. Dukungan dari APBN pada Tahun 2012, berupa bantuan traktor roda 2 sebanyak 7 unit, paddy mower 44 unit, power threser 26 unit, sabit bergerigi 360 unit, Flat bed dryer 2 unit, dan pompa air 6 unit.
Untuk mengatasi penurunan tingkat kesuburan lahan sawah, maka penggunaan pupuk organik merupakan langkah mutlak yang terus diupayakan. Dengan pupuk organik, ketersediaan unsur hara bagi tanaman dapat tercukupi, mengembalikan kesuburan lahan sawah serta untuk memperbaiki struktur tanah, dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Melalui APBD Banyuwangi tahun 2011, telah disalurkan bantuan alat pembuat pupuk organik (Granulator) sebanyak 10 unit dan pada tahun 2012 melalui APBD Provinsi Jawa Timur, disalurkan bantuan chooper sebanyak 17 unit. Hasilnya setiap kecamatan ada sentra produksi pupuk organik yang dikelola oleh Kelompok Tani.
Untuk mendukung pembangunan pertanian, tersedianya infrastruktur pertanian yang baik menentukan berjalannya sistem usaha tani yang baik. Melalui Dinas PU Pengairan, telah dialokasikan anggaran infrastruktur pertanian sebesar 28,7 milyar rupiah tahun 2011, meningkat menjadi 59,7 milyar rupiah pada 2012. Sedangkan pada Dinas Pertanian, peningkatan jalan usaha tani sebanyak 12 unit tahun 2011 dan pada 2012 sebanyak 8 unit, jaringan irigasi Jides/Jitut dibangun sebanyak 13 unit pada tahun 2012 dari APBD, sedangkan dari APBN dibangun sebanyak 58 unit.


Selain potensi tanaman pangan, potensi hortikultura Banyuwangi juga sangat besar. Bahkan meningkatnya produk hortikultura sebagai unggulan daerah ditandai dengan ekspor semangka Banyuwangi ke berbagai negara seperti China, Singapore, Abu Dhabi dan Hongkong. Komoditas manggis Banyuwangi juga telah berhasil menembus pasar internasional melalui ekspor ke China, Singapore dan Hongkong.
Di level  Jawa Timur, Banyuwangi dalam meraih juara I lomba gelar potensi produk pertanian. Kelompok Tani Bango Lestari, Bangorejo, berhasil mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur  sebagai  juara  II  lomba agribisnis buah-buahan pada tahun 2012.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa perspektif baru pengembangan hortikultura, yang tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi lebih kepada peningkatan mutu, daya saing dan akses pasar, telah menunjukkan hasil. Untuk itu, melalui dukungan APBN, telah dialokasikan kegiatan Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SL-GAP) dan Sekolah Lapang Good Handling Practices (SL-GHP) untuk komoditas manggis dan cabai merah. Sejalan dengan itu, SL-GAP Manggis di Kecamatan Kalipuro, SL-GAP Bunga Sedap Malam di Kecamatan Giri dan SL-GAP jahe di Kecamatan Glenmore memperoleh dukungan dari APBD Provinsi Jawa Timur.