Banyuwangi kaya akan peninggalan sejarah. Terbukti memiliki 22 situs bersejarah. Salah satu situs tertua adalah candi di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Lingga dan yoni yang ditemukan d situs tersebut menarik perhatian tim Balai Pelestari Peninggalan Purbakala (BP3) untuk menelitinya.
Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan kekayaan seni dan budaya. Di Bumi Blambangan juga tersimpan kekayaan situs bersejarah yang harus dilestarikan. Misalnya, situs Macan Putih yang berada di Desa Macan Putih, Rowo Bayu di Kecamatan Songgon.
Tidak hanya itu, Aning Patih di Kecamatan Kalipuro dan Buyut Cungking di Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri. Ada lagi Buyut Cili di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah serta Mbah Kemis, Gumuk Putri, Gumuk Jadah di Kecamatan Muncar. Dan masih banyak lagi situs-situs lainnya.
Dari 22 situs yang ada, juru pelihara yang mendapatkan tali asih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi hanya 17 situs. Masing-masing juru kunci mendapatkan dana insentif Rp 300 ribu untuk menjaga kebersihan situs tersebut.
Ada satu situs yang mencuri perhatian BP3. Adalah situs candi yang berada di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Letaknya di areal Perhutani petak 57. Tim BP3 tertarik lantaran usia candi itu diperkirakan berusia 800-an masehi atau seusia candi Borobudur. Candi itu didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana.
Tim BP3 mendatangi lokasi di petak 57 lahan Perhutani, kemarin (11/3). Setiba di lokasi situs, tim langsung meneliti seluruh situs yang berada di lokasi tersebut. Mulai dari lingga, yoni, hingga stupika yang ada di daerah tersebut.
Untuk mengantisipasi pencurian benda bersejarah, lingga diamankan oleh salah satu penduduk, Supoyo, 45. Sedangkan, yoni dipasang untuk melengkapi Pura Sandya Dharma Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Dariharto mengatakan, situs itu sudah lama ditemukan masyarakat. Kali pertama yang ditemukan adalah sisa puing-puing dari peninggalan Resi Markandiya. ''Usia situs ini diduga sama dengan candi Borobudur,'' ungkapnya kemarin.
Dariharto mengaku bangga. Untungnya, penduduk sekitar masih mau melestarikan dengan cara menyimpan sisa-sisa puing. Sehingga, tim BP3 mengetahui, apa saja yang ditinggalkan oleh zaman Resi Markandiya. Lingga dan stupika itu akan diteliti, sehingga nantinya bisa mengetahui sejarahnya. ''Hasilnya kemungkinan masih baru bisa diketahui dua minggu lagi,'' katanya.
Meski situs tersebut sudah ditemukan, namun masih belum ada juru peliharanya. Sehingga siapa yang akan menjaga kebersihan dan merawat situs tersebut, hingga kini belum ada. (Raba)













