LESTARIKAN MASAKAN KHAS BANYUWANGI

01-03-2010

Makanan tradisional mendapat perhatian khusus Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari. Orang nomor satu di Banyuwangi ini menempatkannya sebagai aset daerah yang layak dijual. Istri Bupati Jembrana Gede Winasa ini tak pernah jemu memromosikan aset wisata Banyuwangi ke luar daerah, bahkan hingga ke luar negeri.

Ia menyatakan harapannya, makanan khas Banyuwangi bisa menembus pasar internasional. “Saya selalu menekankan pentingnya promosi wisata, termasuk promosi makanan khas yang jarang dijumpai di daerah lain,” ujar Bupati Ratna.

Ia menuturkan, tumbuhnya pariwisata harus didukung berdirinya rumah makan yang khas. Beberapa daerah bisa terkenal berkat makanan khasnya yang unik. Bupati Ratna meminta para pengelola rumah makan bisa berkreasi dan menyajikan menu makanan khas suku Using. “Ini akan menjadi kenangan tamu yang datang ke sini,” tambahnya.

Selama ini, kata Bupati, restoran di Banyuwangi cenderung menyajikan masakan modern. Padahal, makanan tardisional justru lebih memikat tamu asing. Mereka bisa dikenalkan makanan khas sambil menikmati keindahan alam. Selain bahannya mudah didapat, masakan tradisional bisa ditawarkan dengan harga murah, sehingga tak hanya tamu asing yang bisa membelinya, tetapi juga warga lokal.

Ia memberi contoh masakan rujak soto yang terkenal hingga Jakarta. Makanan khas Banyuwangi ini mulai ditinggalkan di kampung sendiri. Kalaupun ada, hanya warung kecil yang menyediakannya. Restoran besar jarang yang mau meliriknya.

Banyuwangi yang berdekatan dengan Bali memiliki peluang prospektif di sektor pariwisata. Bupati Ratna berharap kalangan pengusaha bisa menangkap peluang itu. Ia berjanji memberikan fasilitas promosi dan menggandeng biro perjalanan wisata dari Bali. Tiap tahunnya, Banyuwangi juga kebagian banjir tamu dari Bali. Sayangnya, kedatangan tamu lebih banyak disuguhi makanan gaya modern.

Selain makanan, Ratna berharap jajanan khas Banyuwangi bisa ikut menyemarakkan kunjungan wisata. Dia bersyukur beberapa pengusaha lokal mulai aktif mengembangkan produk jajanan tradisional. Tumbuhnya industri jajanan ini diharapkan mampu memperkaya aset budaya Banyuwangi. Yang lebih penting lagi hal itu bisa mengurangi angka pengangguran.

Terkait promosi, Bupati Ratna sudah memberikan tempat khusus di Denpasar. Tempat itu diberikan kepada para perajin Banyuwangi yang ingin memasarkan karyanya di Bali. Ke depan, dia berharap ada restoran Banyuwangi yang menyediakan makanan khas daerahnya di Bali. “Promosi adalah kunci utama. Jangan sampai aset Banyuwangi hilang karena tidak adanya promosi,” ujarnya bernada mengingatkan. (Red).